ANALISIS TRANSAKSIONAL DALAM KONSELING KELOMPOK


 

Sekilas Tentang Eric Berne

Tokoh  pencetus analisis transaksional adalah  Eric Leonard  Bernstein  yang lebih terkenal  dengan  nama  Eric Berne anak seorang ahli fisika, dia tumbuh di sebuah daerah yahudi miskin wilayah Montreal Canada. Berne  mendapatkan gelar M.D. dari McGill University Montreal  pada  tahun 1935, dan menyelesaikan pendidikan spesialisasi  psikiater di Yale University  beberapa saat kemudian.

Pada saat masuk dinas militer AD Amerika  (1943-1946) ia memasuki eksperimennya dalam terapi  kelompok.Setelah perang, Berne memulai lagi studi psikoanalitiknya dengan Erik Erikson. Penyelidikannya menghasilkan suatu ide-ide yang bertentangan dengan sebagian besar dari sebagian  besar  psikiatris pada pertengahan tahun 1950-an.

Pada Usia 46 tahun ia dipecat dari keanggotaan di Institut Psikoanalitik. Dia menantang asumsi dasar dari terapi psikoanalitik tradisionalnya dan mulai mempraktekan apa yang disebutnya analisis transaksional. Berne  mulai mengembangkan analisis transaksional pada tahun 1950-an.

Seorang dokter ahli jiwa Eric Berne berpendapat secara tidak sadar setiap manusia sebenarnya sudah memilih lakon hidupnya sendiri. Eric Berne menciptakan sebuah metode yang dinamakan Analisis Transaksional, yakni sebuah sistem psikoterapi atas dasar analisis transaksi yang terjadi dalam proses psikoterapi. Teori kepribadian dan psikonalisis sistematis ini dimaksudkan untuk perkembangan dan perubahan kepribadian.

Eric Berne mengembangkan dan memperkenalkan AT pertama kali pada tahun 1950.   AT dirancang untuk terapi kelompok (Corsini, 1977; Goldenberg, 1983).

Diberbagai literature psikologi (misalnya Hall, 1983; Huffman, Williams & Vernoy, 1991) memasukan AT kedalam bahasan terapi kelompok secara tersendiri. AT diyakini lebih efisien dalam terapi kelompok dari pada terapi individual.   Karena AT menekankan pada interaksi individu sebagai suatu simptom dan penyebab problem psikologis (George & Cristiani, 1981), dan pemahaman yang diperoleh oleh anggota tentang kesalahan transaksi dengan orang lain (Goldenberg, 1983).

Gladding (1995) mengemukakan tiga bentuk kelompok AT, yaitu : keputusan ulang (redecision), klasik (classic) dan kateksis (cathexis). Pada keputusan ulang menekankan pada proses-proses intrapsikis anggota. Dalam kelompok ini tiap anggota mengalami kembali pengalaman hidup mereka dan kemudian mengubah skenario yang tidak tepat.

Kelompok klasik menekankan pada interaksi pada saat sekarang; dan kelompok kateksis menekankan pada pengasuhan ulang atau reparenting. Jadi, kelompok-kelompk AT menekankan pada hubungan interpersonal (model klasik) dan intrapersonal (model keputusan ulang dan kateksis).

Konsep Dasar Konseling Kelompok Analisis Transaksional

Konsep dasar TA (Transactional Analysis) disebut skrip hidup atau life script. Skrip ini menggambarkan corak hidup khas seseorang. Seseorang yang senang atau tidak senang dengan tingkah laku skrip ini, namun menurut Eric Berne, kita mampu mengubahnya apabila kita sungguh-sungguh ingin melakukannya.

Menurut Eric Berne seorang pakar dalam bidang analisis transaksional (transactional analysis) dalam diri setiap orang dewasa ada komponen kehidupan sebagai orangtua, sebagai orang dewasa, dan sebagai anak (Berne, 1964). Komponen diri sebagai orangtua diwujudkan dalam perilaku menasehati orang lain. Komponen pribadi sebagai orang dewasa ditunjukkan pada saat seseorang berdialog dengan akal sehat dengan orang lain. Sedang komponen anak-anak terlihat dari perilaku minta perhatian, kasih sayang, dan perilaku bermain seperti anak-anak.

Pada dasarnya banyak tujuan yang bisa dicapai dengan penggunaan outbond training. Dalam aplikasinya di perusahaan, secara garis besar ada dua tipe penggunaannya, yaitu pengembangan kemampuan di bidang manajemen organisasi dan yang kedua di bidang pengembangan diri (personal development). Penerapan tujuan ini antara lain, yaitu pengembangan tim (team building), pengembangan kepemimpinan (leadership), pengembangan budaya organisasi ( culture development), pengelolaan perubahan ( managing change), perencanaan strategik (strategic plan), dan lain-lain.

Akhirnya meskipun hidup lebih dari yang kita bayangkan bahkan bila hidup lebih daripada hidup itu sendiri kehadiran outbond training rasanya bisa dijadikan sesuatu yang menyenangkan dalam mengisi kehidupan ini. Outbond training dapat memberikan waran dalam kehidupan manusia. Tetapi sebetulnya outbond training akan mampu memberikan labih dari sekedar memberikan warna bagi kehidupan apabila kita semua menyadari bahwa outbond training hendaknya dilandasi oleh suatu keinginan untuk menjadikan manusia menjadi lebih di dalam segi kehidupan, tidak hanya semata-mata menjadi peluang semata bagi provider-provider untuk mencari pasar. Dan nilai-nilai yang didapatkan dari outbond training ini dapat kita aplikasikan dalam kehidupan nyata menjadi lebih berarti bukan hanya menjadi nilai-nilai yang terbuang.

            Secara teori dan praktek AT berpusat pada beberapa konsep dasar seperti ego (ego state), stroke (stroke), dan skenario (script), dengan tidak mengabaikan masa lalu dan masa sekarang serta dari kedua hal tersebut dalam proses konseling kelompok (Corsini, 1977; Gladding, 1995).

  1. Status Ego

Analisis  Transaksional  adalah suatu  sistem  terapi atau konseling kelompok yang  berlandaskan teori kepribadian yang menggunakan  tiga pola  prilaku yang terpisah atau status ego : Orang Tua, Orang Dewasa, dan Anak-anak.

Ego   orang  tua adalah  bagian   kepribadian   yang merupakan  introyeksi dari orang tua atau  dari  pengganti orang  tua.  Ego orang tua memiliki fungsi dualistic yaitu : merawat (nurturing) dan mengkritik (kritikal) atau mengendalikan (controlling). Fungsi merawat adalah untuk memperhatikan. Sedangkan fungsi kritis adalah untuk menyimpan dan menyalurkan aturan dan perlindungan kehidupan. Jika ego orang tua itu  dialami kembali oleh kita, maka apa yang dibayangkan oleh kita adalah  perasaan orang tua kita dalam suatu situasi, atau kita merasa  dan bertindak terhadap orang lain seperti tindakan dan perasaan orang  tua kita terhadap diri kita. Status ego orang  tua berisi “harus/seharusnya”,  dan  “semestinya”. Orang  tua dalam diri kita bisa “orang tua Pengasuh/Pemelihara”,  atau “orang tua Pengritik” seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

Ego orang dewasa adalah pengolah data dan  informasi. Ini adalah bagian obyektif dari seseorang yang mengumpulkan informasi  tentang  apa  yang sedang terjadi.  Ia   tidak emosional  dan  tidak menghakimi, tetapi  menangani fakta-fakta  dan realitas eksternal. Berdasarkan  informasi  yang tersedia,  ego orang dewasa  menghasilkan  pemecahan  yang paling baik bagi masalah tertentu. Ego orang dewasa berfungsi menerima dan memproses informasi dari orang tua, anak dan lingkungan. Ego orang dewasa di anggap dapat membuat keputusan yang paling baik karena dipandang sebagai pribadi yang logis dan realistis.

Ego anak terdiri atas perasaan, dorongan emosi, serta tindakan-tindakan spontan. “Anak” dalam  diri  kita  bisa berupa “anak alamiah”, si “profesor cilik”, atau “anak yang disesuaikan”. Anak alamiah (Free Child atau Natural Child) adalah anak yang impulsif, tidak terlatih, spontan, ekspresif dan agresif. Si Profesor cilik adalah  kearifan (kebijaksanaan) yang  asli  dari seorang anak. Ia manipulatif, egosentrik dan kreatif.  ini  adalah bagian dari ego anak yang intuitif dan bermain berdasarkan firasat/perasaan. Sedangkan  anak   yang disesuaikan (Adapted Child) menunjukkan suatu modifikasi dari anak alamiah. Modifikasi itu  merupakan hasil dari pengalaman  traumatik, tuntunan, latihan dan ketetapan-ketetapan tentang agaimana agar bisa diperhatikan orang lain.

  1. Penggakuan (Stroke)

Gladding (1995) menyatakan bahwa Analisis Transaksional didasarkan pada keyakinan bahwa setiap individu menstruktur waktu mereka untuk memperoleh ”stroke” atau pengakuan verbal dan non verbal. Stroke itu dapat dilakukan dengan cara manrik diri, bermain, melakukan pekerjaan dan persahabatan. Dalam rangka meningkatkan skenario kehidupan dan pola kebiasaan perilakunya, Eric Berne (1966) mengemukakan ada empat posisi hidup dalam setiap diri individu:

  1. Saya OK–Kamu OK
  2. Saya OK–Kamu tidak OK
  3. Saya tidak OK–Kamu OK
  4. Saya tidak OK–Kamu tidak OK

Pada posisi hidup yang pertama Saya OK–Kamu OK, menggambarkan adanya penerimaan terhadap diri dan orang lain. Posisi hidup kedua Saya OK–Kamu tidak OK, memiliki gambaran bahwa seseorang yang selalu memiliki kecurigaan terhadap orang lain sehingga bertingkah laku paranoid. Pada posisi hidup yang ketiga Saya tidak OK–Kamu OK, ia dihadapkan pada situasi depresi dan tertekan pada pilihan hidupnya. Dan posisi ke empat Saya tidak OK–Kamu tidak OK, merefleksikan orang yang schizophrenics serta menolak diri dan keberadaan orang lain. (Gladding, 1983)

Posisi  yang  sehat  adalah  posisi  dengan  perasaan sebagai  pemenang atau posisi “Saya OK — Kamu  OK”.  Dalam posisi tersebut dua orang merasa seperti pemenang dan bisa menjalin hubungan langsung yang terbuka.

Saya  OK  — Kamu tidak OK adalah posisi  orang  yang memproyeksikan masalah-masalahnya  kepada orang  lain  dan mempersalahkan  orang lain. Ini adalah posisi  arogan yang menjauhkan  seseorang  dari orang lain  dan mempertahankan seseorang dalam penyingkiran diri.

Saya  tidak  OK — Kamu OK adalah posisi  orang  yang mengalami  depresi, yang merasa tidak  kuasa  dibandingkan dengan  orang lain, dan cenderung menarik diri atau  lebih suka  memenuhi  keinginan  orang  lain  daripada keinginan sendiri.

Saya  tidak  OK –Kamu tidak OK adalah  posisi  orang yang  menyingkirkan semua harapan, kehilangan minat  hidup, dan  melihat  hidup sebagai sesuatu yang tidak mengandung harapan.

Dalam  peristilahan  analisis  transaksional   stroke adalah  semacam pengakuan. Istilah  ini  digunakan  untuk menjelaskan hubungan saling berkomunikasi antara yang  satu dengan yang lain.

Stroke  positif  berisi pesan  “saya  menyukai  anda” ucapan   itu  bisa diungkapkan dengan bentuk kata-kata menyejukan, sentuhan  fisik, dan isyarat-isyarat persahabatan.

Stroke  negatif  berisi pesan  “saya  tidak  menyukai anda” bisa diungkapkan secara verbal maupun non-vebal.

Stroke  bersyarat  berisi pesan “saya  akan  menyukai anda apabila dan manakala anda bertindak tertentu”,  mereka diterima atas prbuatan yang dilakukannya.

Sedangkan  sroke  tak bersyarat  berisi  pesan  “saya bersedia menerima anda tanpa menghiraukan siapa dan seperti apa  anda itu, dan kita nanti bisa merundingkan  perbedaan diantara kita.

Teori  analisis Transaksional menaruh perhatian  pada rencana  hidup  individu untuk menentukan  jenis  pengakuan (stroke) apa yang diberikan dan didapatkan.

  1. Skenario (Script)

Menurut Gladding (1995), skenario (script) berisikan tiga bentuk transaksi yaitu :

  1. a) Transaksi Komplementer (dua orang beroperasi dari ego yang sama)

Transaksi ini merupakan transaksi yang jelas dan tidak menyembunyikan sutau maksud tertentu.

Transaksi ini terjadi manakala pesan yang dikirim dari status ego yang spesifik mendapatkan tanggapan  seperti yang telah diramalkan sebelumya dari status ego spesifik dari orang lain.

  1. b) Transaksi Lintas / Silang (antara ego yang tidak tepat)

transaksi ini terjadi apabila suatu respon yang diberikan berasal dari suaru ego yang tidak tepat atau tidak diharapkan.

Terjadi  manakala suatu tanggapan yang tidak  diramalkan diberikan terhadap pesan yang dikirimkan seseorang.

  1. c) Transaksi Lepas / Terselubung (dua ego beroperasi secara simultan; yang satu menyamarkan yang lain)

transaksi ini dapat terjadi apabila pesan nampaknya dikirimkan pada status ego tetapi ditransmisikan pada status ego lain.

Transaksi   lepas   adalah   kompleks,   transaksi   ini menyangkut  lebih dari dua status ego dan  sebuah  pesan terselubung dikirimkan.

Tujuan Konseling (Terapi) Kelompok Analisis Transaksional

Adapun  yang  menjadi  tujuan  dasar  dari   Analisis Transaksional adalah membantu konseli dalam membuat keputusan baru  yang  menyangkut  tingkah laku sekarang  dan   arah hidupnya. Dengan  sasarannya adalah mendorong konseli  agar menyadari  bahwa  kebebasan dirinya  dalam  memilih  telah dibatasi oleh keputusan awal mengenai posisi hidupnya.

Inti  terapi ini adalah menggantikan gaya hidup  yang ditandai oleh permainan yang manipulatif dan oleh skenario-skenario  hidup  yang mengalahkan diri, dengan  gaya  hidup otonom  yang ditandai  oleh  kesadaran,  spontanitas   dan keakraban.

Selain  tujuan  dasar diatas,  berikut  ini  beberapa pandangan  mengenai  tujuan analisis  transaksional   yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya :

1) Menurut Harris (1967)

Harris    mengemukakan    bahwa    tujuan     analisis transaksional sebagai proses bantuan terhadap individu agar individu ini memiliki kebebasan memilih, kebebesan mengubah keinginan, kebebasan  mengubah   respon-respon   terhadap stimulus yang lama maupun yang baru.

2) Berne (1964)

Menyatakan  bahwa tujuan utama analisis  transaksional adalah  pencapaian otonomi yang diwujudkan  oleh  penemuan kembali  tiga  karakteristik : kesadaran,  spontanitas  dan keakraban.

3) James dan Jongeward (1971)

Sama  seperti  yang dikemukakan  Berne  yaitu  melihat pencapaian   otonomi sebagai   tujuan   utama    analisis transaksional  yang  bagi mereka  berarti “mengatur  diri, menentukan  nasib  sendiri,  memikul  tanggung  jawab  atas tindakan-tindakan   dan perasaan-perasaan  sendiri   serta membuat pola-pola yang tidak relevan dan tidak pantas untuk kehidupan seseorang”.

Tujuan konseling kelompok AT menurut Berne adalah untuk membantu anggota kelompok memerangi masa lampau pada saat sekarang dalam rangka menjamin masa depan yang lebih baik (Gladding, 1995). Masa lampau diartikan atau digambarkan sebagai peran EOT (Ego Orang Tua) dan EA (Ego Anak), sedangkan masa sekarang diartikan sebagai ED (Ego Dewasa).

Proses yang terjadi dalam kelompok diharapkan dapat membantu individu untuk belajar tentang diri sendiri melalui analisis structural, transaksi, game, dan script.

  • Proses Konseling Kelompok Analisis Transaksional

Kelompok AT didasarkan pada kontrak terapeutik yang dirumuskan dan disetujui oleh pemimpin dan anggota kelompok. Kontrak ini berisi tentang pernyataan yang ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya dan kapan dilaksanakannya.

Menurut Gladding (1995), empat komponen utama dalam kontrak yaitu:

  1. mutual assent, pernyataan atau penetapan tujuan khusus dari perspektif orang dewasa dan menggabungkannya dengan kedewasaan terapis sebagai suatu sekutu.
  2. competency, persetujuan tentang apa yang dapat diharapkan secara realistic.
  3. legal object, suatu tujuan.
  4. consideration, suatu biaya pelayanan.

Dalam prakteknya, kelompok AT mengenal adanya kontrak klasik dan kontrak keputusan ulang (Gladding, 1995).

Kontrak klasik dilaksanakan dengan suatu penekanan pada satu atau lebih hal yaitu analisis structural, analisis transaksional, analisis permainan/game dan analisis skenario kehidupan.

Beberapa  teknik  dari  kontrak klasik yang dapat  diaplikasikan  dalam pada konseling kelompok. Teknik-teknik tersebut adalah :

  1. Analisis Struktural

Dalam analisis struktural, semua anggota kelompok menjadi lebih sadar tentang ego mereka dan bagaimana ego tersebut berfungsi.

Analisis ini adalah alat yang bisa membantu konseli agar menjadi sadar akan isi dan fungsi ego orang tua, ego  orang dewasa, dan ego anak yang ada pada dirinya. Konseli  Analisis Transaksional  belajar  cara  mengidentifikasi  status ego mereka  sendiri.  Analisis strktural menolong  konseli  untuk menyesuaikan pola  yang  dirasakan   telah menjeratnya. Analisis  ini juga menjadikan konseli dapat  menemukan pada status  ego yang mana dia berpijak. Dengan mengetahui  itu konseli bisa menentukan pilihan yang akan diambil.

Dua   problema   yang  berhubungan   dengan   struktur kepribadian  dapat dijadikan pertimbangan oleh analisis struktural: kontaminasi dan eksklusi (tidak termasuk). Kontaminasi ada manakala isi  dari sebuah status ego bercampur dengan yang lain.

  1. Analisis Transaksional

Berisikan kegiatan mendiagnosa einteraksi di antara anggota kelompok untuk menentukan apakah interaksi yang muncul mewakili transaksi komplementer, silang atau terselubung.

Pada dasarnya adalah suatu deskripsi tentang apa  yang dikerjakan dan dikatakan konseli tentang dirinya sendiri  dan tentang orang lain. Apapaun yang terjadi antar manusia akan melibatkan transaksi antara status ego konseli, manakala pesan disampaikan diharapkan adanya tanggapan.

  1. Analisis Game

Analisis Game berisikan suatu pemeriksaan pola perilaku yang berulangkali atau destruktif dan analisis ego state serta berbagai transaksi yang terlibat. Karena permainan dapat mengahmbat keakraban, maka game harus dihilangkan.

  1. Analisis Skenario

Analisis skenario menunjuk pada pemeriksaan rencana kehidupan sebagaimana tampak dalam transaksi dan game. Skenario tersebut dibangun secara tidak sadar ketika individu masih anak-anak.

Skenario    dalam   kehidupan    berlandaskan    pada serangkaian  keputusan dan adaptasi.   Orang   mengalami peristiwa hidup tertentu, menerima, dan mempelajari  peran-peran  tertentu, mengulang-ulang dan  menampilkan  peran tersebut   sesuai  dengan skenario.  Aspek penting   yang terdapat   dalam skenario kehidupan  itu   adalah   sifat menggerakannya yang mendorong seseorang untuk memainkannya.

Pembuatan  skenario mulai terjadi secara  non  verbal pada masa kanak-kanak melalui pesan dari orang tua.  Selama tahun pertama perkembangan, seseorang belajar tentang nilai dirinya sebagai pribadi dan tempat dirinya dalam kehidupan.
Analisis   skenario   adalah   bagian   dari   proses terapeutik  yang memungkinkan pola hidup yang diikuti  oleh individu  bisa  dikenali.  Analisis skenario dilaksanakan dengan menggunakan suatu daftar skenario yang berisi item-item yang berkaitan dengan posisi hidup, penipuan-penipuan, permainan-permainan yang kesemuanya itu merupakan komponen fungsional utama pada skenario kehidupan individu.  Holland (1973)   menyatakan  bahwa otonomi dan keakraban bisa menggantikan skenario dan permainan.

Goulding  dan goulding (1976) menyatakan bahwa para konseli tidaklah “diskenariokan” dan bahwa “perintah”  tidak ditempatkan  pada kepala orang seperti elektrode.  Menurut mereka  “setiap  anak membuat keputusan-keputusan dalam merespon   perintah-perintah yang   nyata   maupun   yang dibayangkan, oleh karena itu mereka menskenariokan  dirinya sendiri.

Melalui  penggabungan Analisis  Transakional,  terapi Gestalt, dan Modifikasi Tingkah laku, Goulding dan Goulding menemukan  bahwa pada konseli bisa berubah  tanpa  memerlukan analisis  bertahun-tahun. Mereka  menekankan konsep-konsep keputusan ulang dengan menantang para konseli untuk menyadari anggapan  bahwa  skenario-skenario itu  ditanamkan kedalam kepala  mereka adalah suatu mitos. Goulding  dan  Goulding menunjukkan, apabila para konseli mempersepsi  bahwa  diri mereka adalah pembuat keputusan tertentu, maka mereka  juga akan  menggunakan  kekuatan mereka sendiri  untuk  mengubah keputusan awalnya.

Kontrak keputusan ulang dilaksanakan pada kelompok AT keputusan ulang tentang rencana kehidupannya, para anggota mula-mula membuat kontrak berkenaan dengan hal-hal penting yang ingin mereka ubah. Selanjutnya, mereka melakukan suatu tindakan yang dipusatkan pada racket dan game yang telah mereka alami.

Anggota kelompok kemudian mengeksplorasi sumber-sumber yang dapat membimbing mereka untuk membuat suatu keputusan hidup tertentu. Tanggung jawab ditekankan sebagai suatu kekuatan untuk berubah, dan ketidakberdayaan yang diekspresikan melalui kata-kata “tidak dapat” tidak dapat diterima. Anggota kelompok yang sudah dapat membuat keputusan ulang dengan membuat suatu perubahan, maka anggota kelompok yang lain perlu membuat penguatan atau doronan untuk melanjutkan. Pemimpin kelompok membantu anggota memusatkan perhatian pada bagaimana mereka akan mengarahkan dirinya dalam cara-cara baru diluar kelompok dan mengembangkan suatu system dukungan yang dibutuhkan untuk melanjutkan perubahan yang telah mereka buat.

Karakteristik Konseli

Karakteristik  konseli  dalam  analisis   transaksional adalah :

  1. Memiliki  kesanggupan dan kesediaan untuk  memahami  dan menerima suatu kontrak, terapi.
  2. Konseli   bersifat  aktif  dalam   melaksanakan   kegiatan konseling/ terapi. Aktif disini adalah konseli  menjelaskan dan  menyatakan  tujuan-tujuan terapinya sendiri  dalam formulir kontrak. Untuk mencapai tujuan tersebut  konseli dan terapis/konselor bisa merancang “tugas-tugas”  yang akan  dilaksanakan selama pertemuan  terapi  dan dalamkehidupan konseli sehari-hari.
  3. Konseli   bereksperimen   dengan  cara-cara   baru   dalam bertingkah laku, oleh karena itu mereka bisa  menentukan apakah mereka akan memilih tingkah laku lama atau  baru. Jika konseli menentukan untuk berubah, para konseli kemudian menyusun   rencana-rencana tingkah laku   baru   untuk perubahan yang diinginkannya.
  4. Konseli tidak bergantung pada kebijaksanaan terapis,  para konseli memperlihatkan kesediaan untuk berubah dengan benar-benar berbuat bukan dengan mencoba atau dengan mengeksplorasi masa lampau dan berbicara mengenai pemahaman-pemahaman yang tidak ada habis-habisnya.
  5. Untuk kelanjutan terapi/konseling konseli melakukan tindakan-tindakan yang membawa pengaruh pada  perubahan-perubahan yang diinginkan.

Aktivitas Konselor

Dalam melaksanakan kegiatan konseling/terapi,  banyak hal yang harus dilakukan oleh konselor antara lain :

  1. Memberikan  perhatian pada masalah-masalah didaktik  dan masalah emosional.
  2. Konselor berperan sebagai guru, pelatih, dan nara sumber dengan  penekanan kuat pada keterlibatan. Sebagai  guru, konselor menerangkan  konsep-konsep seperti   analisis struktural,  analisis transaksional, analisis  skenario, dan analisis permainan.
  3. Konselor membantu konseli dalam menemukan  kondisi-kondisi masa  lampau yang merugikan  yang  menyebabkan   konseli membuat keputusan awal tertentu, memungut rencana hidup dan mengembangkan strategi-strategi yang telah digunakan dalam menghadapi  orang lain  yang   sekarang   ingin dipertimbangkannya.
  4. Konselor membantu konseli memperoleh kesadaran yang  lebih realistis dan mencari alternatif-alternatif   untuk menjalani kehidupan yang lebih otonom.
  5. Dengan   pengetahuan   keahlian   analisis   struktural, analisis  transaksional, dan analisis skenario   yang dimiliki, bukan berarti konselor memerankan seorang ahli yang tidak memihak, menyingkirkan diri,  dan  superior yang tampil  untuk  menyebuhkan “pasien  yang sakit”, melainkan  harus menekankan  pentingnya  hubungan  yang setaraf antara konselor dengan konseli sebagai pasangan dalam proses terapi.
  6. Konselor  menggunakan  pengetahuannya  untuk   menunjang konseli  dalam hubungannya dengan suatu  kontrak  spesifik yang jelas yang diprakarsai oleh konseli.

Tentang fajarjuliansyah, CHt.

mahasiswa bimbingan dan konseling UPI yang punya minat khusus dalam psikoterapi kognitif.
Pos ini dipublikasikan di About Pshycology and Conseling. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s