Hidup Itu Pilihan


T

uhan mengilhamkan pada manusia jalan kefasikan dan jalan ketaqwaan, selanjutnya manusia dibebaskan memilih tertarik pada jalan kefasikan atau tertarik pada jalan ketaqwaan, namun keberuntungan dimiliki oleh manusia yang menyucikan jiwanya karena barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya, juga sebaliknya kerugian bersama orang yang mengotori jiwanya tersebut, karena barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula”

 

Hidup itu pilihan, dan pilihan selalu datang bersama konsekuensi yang ada dibaliknya, sedangkan konsekuensi memang selalu seperti koin yang bemata dua: menjadi daya tarik dan menjadi daya tolak untuk mengambil keputusan dan begitu seterusnya sehingga setiap pengambilan keputusan harus disadari dengan pikiran, diyakini dengan iman untuk seterusnya disyukui: dihadapi, dihayati dan dinikmati.

      Hidup itu pilihan, bisa memilih instan bisa memilih berproses setahap demi setahap. Yang instan memiliki daya tarik mudah jadi dan memiliki daya tolak mudah mati, seperti layaknya kita menonton video dengan cara dipercepat, cerita bisa dipilah yang menariknya saja namun cerita cepat selesai. Yang berproses memiliki daya tarik lama mati namun memiliki daya tolak lama jadi, layaknya menonton tv kita harus melihat iklan, melihat hal-hal yang tak ingin di lihat namun  menempuh lama untuk mengetahui ending ceritanya.

      Hidup itu pilihan, ingin tetap di comfort zone atau mengejar cita-cita. Yang ingin tetap di comfort zone memiliki daya tarik kepuasan atas materi yang ada namun memiliki daya tolak tidak memiliki kepuasan batin dalam melakukan sesuatu. Yang mau mengejar cita-cita memiliki daya tarik akan kepuasan batin yang kelak akan dimiliki, namun memiliki daya tolak harus berproses kembali setelah mendapatkan sesuatu, dan bisa jadi memulai dari nol.

Hidup itu pilihan bisa memilih berbuat buruk atau berbuat baik. Yang ingin berbuat buruk memiliki daya tarik mudah dilakukan (dibantu greed, desire, dan bisikan syaitan) menyenangkan, memiliki kepuasan batin seketika, dan memiliki daya tolak perasaan bersalah, cenderung tidak tenang, cenderung serakah dan tidak bersyukur, dan janji neraka. Yang ingin berbuat baik memiliki daya tarik, janji syurga, bersyukur, merasa tenang dan aman tetapi memiliki daya tolak sulit dilakukan (didorong drive, greed, desire, motive dan digoda syaitan).

Hidup itu pilihan, mau memilih apapun selalu dihadapkan dengan daya tarik dan daya tolak. Daya tarik dan daya tolak selalu berujung konsekuensi yang selalu melipat-ganda, bervibrasi, kemudian kembali kepada kita dengan balasan yang lebih besar. Konsekuensi kebaikan akan berupa kepercayaan, penghormatan, rasa kebersamaan, diterima, dan syurga, konsekuensi keburukan akan berupa kesedihan, perasaan bersalah, rasa tidak tenang, rasa tidak aman, tidak diterima.

      Hidup itu pilihan, namun selalu ada pilihan yang berujung baik. Pilihan yang baik memang pilihan yang ideal, dan cenderung sulit diambil oleh manusia yang cenderung bersifat zhalim dan bodoh (QS al-Ahzab, 33:72), sombong dan congkak (baca QS. An-Nisaa, 4: 36) sangat mengingkari nikmat (QS.al-Hajj, 22:66). Pilihan yang baik memang perlu dilandasi kesabaran lebih, bersyukur lebih, keuletan lebih, waktu lebih untuk mendapatkan hasil yang lebih. Tak seperti pilihan yang berujung tidak baik memang hanya perlu sedikit kesabaran, sedikit keuletan, dan sedikit waktu, dan minim penggoda namun  setimpal dengan hasil yang juga minim.

      Hidup itu pilihan maka pilihlah yang baik. Cara memilih yang baik dimulai dengan pilihlah untuk mengendalikan diri karena mengendalikan diri juga merupakan pilihan, kendalikan diri dari perasaan iri, karena perasaan iri hanya akan membimbing kita menjadi tidak bersabar dan bersyukur menuju jalan yang instan dan berujung pada memilih cara yang buruk, kendalikanlah diri dari perasaan dengki karena perasaan dengki hanya akan membimbing kita menjadi orang yang tak bijak, yang akan membimbing kita ke jalan dzolim kepada orang yang kita iri dan dengki. Kendalikan diri sehingga iri dan dengki tidak kembali kepada diri kita dengan balasan yang lebih besar.

 

Maka berlindunglah kepada Tuhan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki kepada kita, dan berusahalah untuk bersyukur dan bersabar agar pilihan kita baik agar kita tidak menjadi orang yang iri lebih-lebih pendengki, mengingat “barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” serta semua tindakan kita terhadap orang lain merupakan apa yang akan kita dapat dari orang lain pula –law of effect. Wallahua’lam

Tentang fajarjuliansyah, CHt.

mahasiswa bimbingan dan konseling UPI yang punya minat khusus dalam psikoterapi kognitif.
Pos ini dipublikasikan di About Pshycology and Conseling. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Hidup Itu Pilihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s