Bermimpi bukan bidang saya (tapi tanpa mimpi saya bukan apa-apa)


Teman sekamar saya sudah mendapatkan gelar impiannya sekarang. Gelar yang sedari dulu diimpi-impikannya—CH, sebuah gelar yang membuktikan bahwa dia telah sepenuhnya diakui oleh profesi sebagai certified hypnotist, ya itulah salah satu langkahnya untuk mengejar mimpinya menjadi seorang hypnotherapist. Meski belum sepenuhnya menjadi apa yang dia impikan, paling tidak dia telah menentukan jalanna sendiri untuk menjadi konselor yang berbasis hypnosis dan hanya selangkah lagi menjadi hypnotherapist.
Berbeda dengan saya, saya tidak mengejar mimpi. Bahkan untuk bermimpi pun saya takut. saya terlalu terbelenggu oleh pemikiran saya tentang keberdayaan saya dalam meraih mimpi. Saya seorang mahasiswa semester akhir—semester delapan, dan selama sekian semester yang saya lalui selama kuliah ini saya belum mendapatkan apa-apa yang saya impikan, bukan hanya karena saya tidak mengejar mimpi saya, tetapi bahkan saya tida berani untuk bermimpi seperti mahasiswa yang lain. Saya bukannya memiliki kelemahan dalam bidang akademik, tetapi saya terlalu malas untukbermimpi dan mengejar.
Di semester ini, seperti mahasiswa lainnya saya hanya mengontrak tiga mata kuliah sisa—PLP, Skripsi dan sidang skripsi. Tiga mata kuliah ini adalah 3 mata kuliah penentu segalanya, penentu apakah saya harus mengontrak semester Sembilan, dan semester sepuluh, dan juga penentu apakah saya termasuk orang yang sangat berleha-leha, dan pastinya apakah saya dapat memenuhi janji saya kepada orang tua. Inilah semester penentu sebagian dari hidup saya.
Tapi selebihnya, saya tidak melakukan apapun untuk bermimpi. Saya memang dipandang kritis dan memiliki pengetahuan lebih dalam hal akademik baik oleh teman-teman saya, maupun beberapa dosen. Tapi tak lebih yang saya lakukan—hanya kritik, hanya teori, tanpa motivasi, tanpa semangat, tanpa mimpi. Saya bergerak hanya seperti robot yang seakan-akan tidak memiliki keinginan, atau hanya seperti aliran air yang mengalir dari hulu ke hilir, juga tak lebih hanya seperti binatang yang hanya merespon ketika ada stimulus dan didasari oleh insting, atau mungkin setara dengan batu kali yang kian lama kian bundar namun tak punya kekuatan untuk bergerak, kecuali digerakkan.
Tapi lebih tepatnya mungkin saya tidak memiliki free-will. Kebebasan untuk berpikir karena saya terbelenggu oleh pikiran-pikiran sempit dan otomatis, sehingga saya tidak memiliki minat untuk bermimpi. Kebebasan untuk merasa karena pikiran-pikiran saya terlalu sibuk mempertimbangkan dan akan mengalah pada khayalan-khayalan yang belum tentu terjadi. Kebebasan bertindak karena saya terlalu menyempitkan perasaan saya sehingga diam menjadi solusi.

Saya bukan apa-apa, apalagi tanpa mimpi. Jauh berbeda dengan Arai sang pemimpi, bukan pula Ikal, yang berani melangkah demi mimpi yang pernah dirajut.
Semua akan bermula dari mimpi. Tak terbayangkan para penemu seperti Edison, Wright Bross, Einstein atau lainnya jika dia tidak memimpikan temuan-temuannya. Tentulah para penemu tersebut berkreasi, berinovasi dan mencipta dalam suatu mekanisme impiannya sehingga dia menginginkan adanya perubahan yang lebih baik.
Semua berlanjut pada kerja keras.

Tentang fajarjuliansyah, CHt.

mahasiswa bimbingan dan konseling UPI yang punya minat khusus dalam psikoterapi kognitif.
Pos ini dipublikasikan di About Me. Tandai permalink.

4 Balasan ke Bermimpi bukan bidang saya (tapi tanpa mimpi saya bukan apa-apa)

  1. mantap gan. kerja keras adalah segalannya,,,, pasti berbuah hasil..salam kenal

  2. Niki Andro berkata:

    Saya inget Fajar pernah bilang sebenarnya fikiran kita sendiri lah yang membelenggu kita. Yang perlu dilakukan adalah lakukan apa yang perlu dilakukan dan jangan biarkan kita terbelenggu oleh fikiran yang tidak produktif! Inget ga? Kalau redaksinya emang ga sama dengan yang Fajar bilang sih, tapi isinya sama lah!..

  3. fajarjuliansyah berkata:

    Thanks ah. Salam kenal juga.

  4. Fikri berkata:

    Salam kenal. Hanya orang besar yang berani bermimpi dan bekerja keras mengejar mimpinya itu. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s