Siap untuk jadi rasional dan punya Cinta yang bahagia?


Fajar Juliansyah

Dari awal kita udah ngebahas tentang pikiran yang membentuk perasaan, sehinga kita sebaiknya bertanggungjawab atas pikiran yang menyebabkan terjadinya perasaan-perasaan tadi, bukan malah menyalahkan orang lain, masa lalu, atau keadaan. Setelah kita menerima, meyakini dan menerapkannya, maka kita telah memiliki falsafah yang lebih berguna dan dapat mendorong kita menjadi lebih bahagia dalam cinta. Karena dengan hal ini kita bisa menata pikiran kita sehingga perasaan dan cara berperilaku kita merupakan pilihan bagi kita.

Pertanyaan Pertama, Cinta yang kaya gimana yang irasional?

Nah yang kaya gimana yang perlu di tata itu? Apa semua cinta itu irasional? Jawabannya pasti tidak semua cinta itu irasional. Cinta yang irasional itu cinta yang dilandasi keyakinan irasional. Keyakinan irasional itu menurut Froggat bahasannya adalah:

  1. Keyakinan yang mengubah realitas (salah satu interpretasi mengenai hal-hal yang terjadi); atau keyakinan yang mencakup segala cara yang tidak logis dalam mengevaluasi diri sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar kita –adalah demanding, catastrophising, dan people rating.
  2. Keyakinan yang disfungsional bagi kita: keyakinan ini menghalangi kita untuk mencapai sasaran dan tujuan kita. Keyakinan ini menciptakan emosi ekstrem yang bertahan dengan ngotot, menysahkan, dan tidak dapat dimobilisasi. Keyakinan ini mengarah perilaku yang merusak diri sendiri, orang lain maupun hidup kita secara umum.

Dari pengertian pertama ini kita ngedapetin dua hal yang berkenaan dengan keyakinan irasional yaitu interpretasi yang berupa keyakinan yang mengubah realitas dan evaluai keyakinan yang ga logis.

Keyakinan yang merubah realitas itu adalah sejumlah pemikiran yang bisa ngehalangin kita dari kenyataan. Dengan adanya keyakinan kaya gini seseorang biasanya menarik kesimpulan yang melenceng dari kenyataan padahal kenyataan itu belum terjadi dan keyakinan yang ada pun belum tentu bener. Hal ini berkaitan banget sama kegiatan interpretasi, kegiatan interpretasi itu kegiatan penarikkan kesimpulan tentang hal-hal yang menurut pikiran kita sedang terjadi. Kadang-kadang interpretasi ini bisa benar, tapi kalo didasari sama keyakinan penyimpanganan realitas, tentu aja sering salahnya. Nah pemikiran yang biasanya menyimpangkan realitas ada 7 kalo menurut Beck, yang 7 itu adalah:

  1. Black and white thinking

Black and white thinking itu pemikiran otomatis “klo ga Hitam, pasti putih”. Ini merupakan salah satu kegiatan yang menyimpangkan realitas. Orang biasanya memandang segala sesuatu dengan ekstrem tanpa ada jalan tengah sama sekali, bukan cuma di kehidupan percintaan, tapi juga di kehidupan keseluruhan. Pernah denger orang yang lagi berantem waktu pacaran ngomong kaya gini “Ah udahlah kalo dia ga dengerin saya terus kaya gini saya bakalan putus” atau ketika seseorang yang mau nembak curhat kaya gini “klo ga bisa jadi pacar, maka ga akan bisa jadi temen juga” atau pemikiran otomatis yang sering diucapin orang yang baru putus “klo ga sayang sama kita, berarti dia benci sama kita” atau dikehidupan biasa kita sering denger “jika saya gagal dalam bagian ini mending ga usah diterusin”, sering denger kan?

Sebenernya banyak contoh lainnya, tapi intinya pemikiran kaya gini yang menyimpangkan kenyataan kalo selain warna item dan putih ada hamparan warna abu bahkan ada jutaan warna lainnya. Apa kalian termasuk orang yang sering berpikiran seperti itu?

  1. Filtering

Filtering itu “menyaring”. Kaya nyaring kelapa untuk misahin ampas dan santennya, nyaring pasir biar kerikilnya ga ada dan lain-lain. Nah jadi gimana pemikiran penyimpangan realitas melalui penyaringan ini? Jawabannya klo kita ngambil yang jelek-jeleknya aja atau sebaliknya ngambil yang bagus-bagusnya aja dalam memandang sesuatu. Jadi ada dua jenis penyaringan, pertama selalu mandang jeleknya aja, yang kedua selalu memandang yang bagusnya aja. Keduanya merupakan penyimpangan realitas, karena kita ga memandang sesuatu secara subjektif. Kenapa bisa membuat tidak bahagia? Soalnya dengan penyaringan ini kita bakalan menghilangkan part-part tertentu dalam kehidupan kita yang bisa aja bikin kita seneng. Verbalisasi (pemberitahuan terhadap diri sendiri dan orang lain) keyakinan ini bisa dicontohkan dengan “Saya tidak pernah bahagia dengan dia (padahal banyak kenangan manis yang terjadi)” atau “Dia selalu saja membuatku kesal (padahal seringkali mendatangkan tawa)”. Barusan contoh verbalisasi orang yang selalu mandang jeleknya aja, nah gimana kalo verbalisasi orang yang selalu mandang bagusnya aja? Contohnya “dia selalu benar, jadi saya selalu mengalah” dan lain-lain.

Seseorang itu gampangnya selalu liat yang jelek-jeleknya aja tanpa memikirkan selalu ada kebaikan dalam kejelekan itu, ini jelas bakalan jadi masalah. Nah tapi juga kalo ada orang yang selalu mandang bagus-bagusnya aja, itu bisa bikin kehidupan kita ga bahagia. Contohnya di verbalisasi “dia selalu benar, jadi saya selalu mengalah” dapat kita lihat bahwa interpretasi (yang berupa keyakinan yang menyimpangkan realitas) kaya gini dapat bikin seseorang (melalui evaluasi keyakinan) terus-bergantung, terus mengalah sampai-sampai kita tidak sadar “Dia” pun pernah salah dan “saya” tidak selalu salah.

  1. Overgeneralising

Overgeneralising adalah bikin kesimpulan dari yang khusus yang ditarik menjadi sangat umum. Tau majas pars pro toto kan? Overgeneralising ini mirip Majas pars pro toto yang menggeneralisasikan bagian menjadi suatu keutuhan, contoh majas ini adalah “saya belum melihat Batang hidung Andi” kalimat bermajas ini berarti “Saya belum melihat Andi”. Mirip dengan majas ini, penyimpangan realitas melalui overgeneralising berkaitan dengan perluasan penilaian terhadap bagian diri (biasanya perilaku) dan akhirnya berpikir bagian itu mewakili situasi keseluruhan. Dengan kata lain orang menyimpulkan sesuatu yang universal dari suatu peristiwa khusus. Contoh verbalisasinya “Dia tidak mencintaiku karena tidak mendengarkan ku” atau bisa saja “Dia marah padaku karena dia tidak menjawab pertanyaanku”.

  1. Mind-reading

Mind-reading itu membaca pikiran. Kegiatan membaca pikiran ini membuat kita meloncat ke sebuah kesimpulan tanpa bukti yang cukup. Mind-reading ini jelas-jelas bikin kita “mengumpat” dari kenyataan. Mind-reading ini adalah kegiatan membaca pikiran orang lain dengan membuat dugaan tentang hal-hal yang dipikirin orang lain. Mind-reading yang membuat perasaaan tidak bahagia contohnya adalah “Dia mengabaikanku dengan sengaja” atau “dia tidak sungguh-sungguh mencintaiku” contoh yang lain “Dia marah padaku” atau saya pernah denger kalimat ini waktu duduk-duduk di depan Perpus “kamu ngomong gitu karena kamu udah ga sayang kan?”.

  1. Fortune-telling

Fortune-telling itu menduga-duga masa depan –yang belum pasti, dan menjadikannya keyakinan yang pasti terjadi. Fortune-telling itu penyimpangan realitas dengan memperlakukan keyakinan tentang masa depan sebagai realitas bukan sekedar perkiraan. Contohnya adalah “Dia akan memutuskan saya” atau “Saya tidak bisa jika tanpa dia”.

  1. Emotional reasoning

Emotional reasoning itu memberikan pembenaran terhadap alasan-alasan seseorang untuk memiliki perasaan yang negatif. Emotional reasoning ini dilakukan dengan mengatakan kepada diri sendiri jika saya merasa yakin akan sesuatu, maka itulah kenyataannya.

Pernah denger kan orang yang bilang “Saya marah karena kamu membuat saya marah” hal ini merupakan pembelaan pemeliharaan perasaan marah melalui alasan –alasan yang menyalahkan orang lain. Kalimat verbalisasi yang mungkin kita sering dengar adalah “wajar saja apabila saya marah, kalau dia tidak memperhatikan saya”. Emotional reasoning juga dilakukan seserang dengan melakukan verbalisasi kaya gini: “saya merasa gagal, jadi saya memang gagal”, “Saya tidak akan cemburu kalo saya tidak sayang”. Penalaran emosional ini dapat membuat kita menganggap bahwa perasaan negatif kita itu bisa “dibenarkan” sesuatu yang wajar. Dengan demikian kita seakan-akan menggali lubang agar kita jatoh sendiri. Atau sengaja memelihara Harimau padahal kita takut kucing.

  1. Over-Personalising

Kita sering denger istilah “GR” atau gede rasa, ini merupakan salah satu bentuk over-personalising yang membuat kita meloncat ke sebuah kesimpulan bahwa “Saya yang dia maksud”, yang berpengaruh pada perasaan kita. Personalising merupakan kegiatan menyimpulkan situasi dengan berpikir bahwa sesuatu langsung berkaitan dengan kita. GR mungkin sangat membuat kita senang dalam batas waktu tertentu. Perasaan yang ditimulkan dari perasaan GR hanyalah sementara dan bisa jadi sangat keterbalikan bila kita mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi.

Paling tidak GR memberikan kita sedikit perasaan menyenangkan. Tetapi over-personalising lain biasanya tidak memberikan perasaan yang menyenangkan sedikit pun. Coba apa yang kamu rasakan ketika hari ini kamu merasa tidak berpenampilan seperti biasanya dan kamu mulai berpikir bahwa semua orang mengamati saya (padahal tidak ada yang memerhatikan sedikit pun)? Perasaan yang tidak enak bukan yang muncul?

Semua cara berpikir tadi merupakan cara berpikir yang dapat membuat kita menginterpretasi sesuatu tidak sesuai dengan realitas. Setelah kita menginterpretasi sesuatu maka akan timbul kesimpulan, dimana kesimpulan ini ihasilkan dari suatu proses evaluasi interpretasi tadi. Suatu interpretasi yang menyimpang dari realitas dapat menyebabkan keyakinan irasional jika didukung dengan evaluasi yang tidak logis. Evaluasi yang tidak logis itu berupa Demanding, catastrophising, dan people-rating.

  1. Demanding

Demanding itu evaluasi dan atau keyakinan yang “ngeharusin” sesuatu, kebayang ga “ngeharusin” itu yang kaya gimana? Ngeharusin itu nyuruh kepada diri sendiri, orang lain atau lingkungan untuk melakukan atau menjadi sesuatu. Contohnya kita ngeharusin pacar kita untuk merhatiin kita, kita harus bisa jadi orang yang kuat di depan pacar kita, pacar kita harus melakukan yang kita mau dan yang lebih ekstrem itu “Cinta” harus seperti yang saya mau. Fenomena-fenomena seperti ini sering banget kejadian, dan yang kaya gini yang buat kita ga nyaman dan ga bahagia sama “cinta”, entah apa alasannya, yang jelas, “status pacar” sering dimanfaatkan seseorang untuk memperlihatkan betapa berharganya dia –hingga dapat mengatur dan mengendalikan oang lain sampai ada orang pacaran yang “perang” gede-gedean gara-gara tidak mau di suruh makan oleh pacarnya (waw!!), memperlihatkan betapa lemah dirinya di hadapan cinta –sampai-sampai dia harus bergantung pada kekasihnya, sampai ada orang yang ga jadi beli sesuatu yang dia butuhin banget gara-gara pacarnya ga mau nganter.

Kalo ada yang kaya contoh-contoh tadi, mending kalian cepet-cepet sadar kalo hal-hal yang kaya tadi bisa bikin kita ga bahagia. Percaya kan?

  1. Catastrophising

Catastrophising itu ngelebay-lebain atau nganggap sesuatu sebagai malapetaka, sedikit memikirkan yang positif atau seringnya ngumpulin yang jelek-jelek jadi satu. Sering kali kita mengganggap sebuah “kerikil” sebagai “batu besar” saat kita bermasalah dengan kekasih kita.

hese ngabahasakeunana

Pengalaman dan keadaan negatif itu bagian dari cinta yang nyata. Bahkan bagian dari kehidupan yang nyata. Wajar kalo orang tidak menyukai sesuatu, tidak menyukai situasi, atau tidak menyukai perilaku orang lain, tapi kebayang ga, kenapa kita ga suka sama hal-hal tadi? Jawabannya mungkin kesan pengalaman buruk, pengalaman buruk itu didapat dari diri kita sendiri atau hanya ceritera orang lain. Contohnya temen saya pernah cerita kalausaja dia tidak menyukai wanita

  1. People rating

Keyakinan irasional kata Ellis…

  1. Aku membutuhkan cinta dan pengakuan dari orang-orang yang berarti bagiku. Aku harus menghindari sikap tak merestui dari sumber manapun.
  2. Untuk menjadi pribadi yang berharga, aku harus sukses dalam apapun yang kulakukan dan tidak melakukan kesalahan apapun.
  3. Orang seharusnya selalu melakukan hal-hal yang benar. Apabila mereka berperilaku menjijikan, tidak adil, atau mementingkan diri sendiri, mereka harus disalahkan dan dihukum.
  4. Segala sesuatunya harus berjalan seperti yang kuinginkan. Kalau tidak demikian, hidup menjadi tak bisa ditoleransi.
  5. Aku harus khawatir terhadap hal-hal yang dapat membahayakan, tidak menyenangkan atau menakutkan. Jika aku tidak mengkhawatirkannya aku takut hal-hal itu terjadi.
  6. Ketidakbahagiaanku disebabkan oleh hal-hal yang dapat membahayakan, tidak menyenangkan, atau menakutkan. Jika aku tidak mengkhawatirkannya, aku takut hal-hal itu terjadi.
  7. Aku lebih bahagia dengan menghindari kesulitan hidup, hal-hal yang tak menyenangkan dan tanggung jawab.
  8. Setiap orang perlu bergantung pada seseorang yang lebih kuat dari dirinya sendiri.
  9. Peristiwa yang terjadi di masa laluku adalah penyebab masalahku. Semua itu masih terus memengaruhi perasaan dan perilakuku sekarang.
  10. Seharusnya aku ikut marah ketika orang lain menghadapi masalah dan ikut merasa tak bahagia saat mereka sedih.
  11. Tak semestinya aku menanggung perasaan tidak nyaman dan sakitku tak bisa menanggungnya. Aku harus menghindarinya dengan segala cara.
  12. Setiap masalah seharusnya mempunyai solusi yang ideal. Sungguh tak dapat ditoleransi bila tidak satu pun solusi dapat ditemukan (Frogatt, 2005, 32).

Belum selese….

Pertanyaan kedua, Putus apakah sebuah pilihan?

Oke! kita siap take off menjadi lebih bahagia. Tapi layaknya pilot dalam pesawat kita harus mencek segala kemungkinan kesiapan kita. Pertama kita pastikan bahwa kita memiliki keyakinan bahwa perubahan itu mungkin terjadi dalam menghadapi masalah bersama pacar kita. Kedua, kita cek perubahan-perubahan selain B apa yang mungkin dapat dilakukan untuk menjadi lebih bahagia.

Poin kedua menunjukkan bahwasanya pada titik-titik tertentu, kita juga memerlukan perubahan A. contohnya begini, ketika kita — dalam batas manusia, sudah tidak dapat menahan perasaan “tidak enak” yang timbul ketika pacaran, padahal kita telah berupaya mengendalikan pikiran kita, maka pandangan terhadap situasi tersebut dapat berupa 3 hal, yaitu : 1) menerima keadaan tersebut dan mencari kebahagiaan yang dapat diperoleh dari keadaan tersebut; 2) mengganggap sebagai tantangan dan mencoba menjalankannya penuh kebahagiaan; dan 3) menyerah dan mencari cinta yang lain. Hal tersebut wajar dan memang rasional karena kita manusia dan memiliki batas-batas tertentu.

Walaupun hal tadi wajar, Tetapi kita akan tetap menitik beratkan perubahan dalam pikiran kita—sampai titik tertentu. Bukan karena kita tidak boleh memandang A sebagai masalah, tetapi karena kita kerap kali perlu menghadapi keyakinan irasional sebelum kita dapat berbuat banyak terhadap situasi (A).

Hal lain yang perlu kita pertimbangkan adalah kita tidak selalu dapat merubah atau paling tidak memengaruhi hal-hal yang terjadi pada diri kita. Akan tetapi pikiran kita tentang peristiwa-peristiwa inilah yang berada dalam kendali kita. Dengan mengubah pikiran kita, maka kita memiliki dua keuntungan: yaitu kita memiliki posisisi yang lebih baik untuk mengubah hal-hal yang dapat kita ubah maupun untuk menjalani hal-hal yang tidak dapat kita ubah. Bukankah lebih baik? Ketimbang jika kita memilih untuk tidak toleransi pada situasi!

Pertanyaan ketiga, kalo ga putus harus gimana?

Ah entar dilanjutin lagi yah….

Tentang fajarjuliansyah, CHt.

mahasiswa bimbingan dan konseling UPI yang punya minat khusus dalam psikoterapi kognitif.
Pos ini dipublikasikan di View of Cinta. Tandai permalink.

2 Balasan ke Siap untuk jadi rasional dan punya Cinta yang bahagia?

  1. Den Hanafi berkata:

    saya datang berkunjung gan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s