NEGLECTED CHILDREN: ADA TAPI TAK ADA


Oleh: Fajar Juliansyah*

*) Penulis adalah mahasiswa PPB FIP UPI angkatan 2006

Ibu Any meminta siswa membentuk kelompok sebanyak 6 orang untuk melaksanakan tugas observasi partisipan dan wawancara 8 jam terhadap seseorang pekerja. Ibu Any sengaja tidak mengelompokkan mereka dengan alasan agar kelompok yang terbentuk terdiri atas orang-orang dekat yang mampu bekerja-sama dengan efektif. Bu Any kemudian meminta siswa untuk menuliskan nama-nama anggota sekaligus rencana observasi mereka dan mengumpulkannya ke depan. Setelah semua kelompok terkumpul, kemudian Nia melapor kepada Bu Any bahwa dia belum mendapatkan kelompok, dan kemudian…..”

Pernahkah di kelas, anda “ada tapi dipandang tidak ada” oleh teman kelas? Atau pernahkah ada yang bertanya kepada teman kelas anda tentang keberadaan anda, tetapi teman kelas tersebut tidak mengetahui keberadaan anda, atau bahkan tidak mengenali anda? Nia bisa jadi merupakan salah satu siswa yang merasakan hal itu—Ada tapi dipandang tidak ada, atau diabaikan dalam kelas. Siswa yang diabaikan ini biasa disebut dengan neglected children.

Neglected children merupakan status sosiometri yang dihasilkan dari penilaian teman kelas terhadap individu. Berdasarkan status sosiometri ini, neglected children menurut Sherman (2000) adalah siswa yang menerima nominasi positif sedikit—jika ada, dan nominasi negatif yang juga sedikit—jika ada. Bahkan lebih jauh lagi, menurut Grifford (2003) neglected children mungkin saja tidak diketahui keberadaannya oleh teman kelasnya, hal ini sependapat dengan Walsh (2000) bahwa these children are not even being acknowledged by their classmates.

Korelasi dan karakteristik yang jelas dan ajeg mengenai neglected children belum teridentifikasi sampai saat ini (Cillessen, Bukowski, & Huselager, 2000). Beberapa studi longitudinal mengidentifikasikan adanya kesulitan dalam mempelajari karakteristik tingkah laku neglected children ini. Karakteristik tingkah laku neglected children sulit dibedakan dengan status popular atau average. Neglected children ada dan dipandang secara berbeda oleh teman sebaya dibanding guru (Grifford, 2003). Berdasarkan penilaian kelas, neglected children acap kali dikarakteristikan sebagai pemalu (shy) atau menarik diri (withdrawn) (Ollendick, et al., 1992), sebagai siswa yang prosocial behavior-nya kurang (Harrist et al., 1997; Hatzichristou & Hopf, 1996) dan secara gampang disebut siswa yang memiliki sedikit “hal yang menyenangkan” dibanding non-neglected peers (Ollendick et al., 1992). Berbeda dengan pandangan Guru, mereka bahkan kesulitan untuk mendeteksi perbedaan-perbedaanya, atau bahkan memandang neglected children sebagai tokoh positif dalam kelas, yang memiliki karakteristik menghargai sekolah, menghargai motivasi sekolah, mandiri, dan berperilaku secara tepat (Wentzel & Asher, 1995). Membingungkan memang.

Tapi akhirnya beberapa ahli berpendapat bahwa stabilitas dari status neglected lebih rendah ketimbang status sosiometri lainnya—popular, controversial, average, rejected (Cillessen, Bukowski, & Huselager, 2000; Newcomb et al., 1993) dan menaikkan jumlah nominasi akan mengurangi jumlah neglected children berdasarkan penilaian teman sebaya (Terry, 2000). Karena stabilitas klasifikasi neglected children cenderung kecil dan perbedaan antara neglected children dengan popular dan/atau average sangat kecil maka beberapa ahli berpendapat bahwa neglect mungkin merupakan status sosiometri yang tidak berarti (Rubin, Hymel, Lemare, & Rowden, 1989). Paling tidak neglected children menurut Rowden (1989) secara mendasar dipandang tidak memiliki resiko yang tinggi dalam perkembangan selanjutnya. Tetapi apakah benar neglected children tidak berresiko? Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka? Apa yang mereka butuhkan? Siapa yang dapat membantu mereka?

Apa yang anda rasakan jika anda “ada tapi tidak ada”? Apa yang anda rasakan jika tidak pernah diajak dan dipilih dalam kelompok belajar? Apa yang anda rasakan jika bahkan, teman anda baru sadar bahwa kalian berdua adalah teman sekelas? Hanya satu jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kesepian dan pasti sulit!

Bagaimana pun juga neglected children dipandang “tidak ada” dalam kelas dan itu akan jadi masalah tertentu bagi siswa. Hal ini akan sangat bertentangan dengan kebutuhan siswa untuk mendapatkan affiliasi. Apalagi pada remaja.

Remaja kebutuhan untuk diterima oleh teman sebayanya sangatlah besar sehingga kehidupan sosial ini memungkinkan memunculkan masalah yang krusial pada remaja. Sullivan (1996) menyatakan bahwa remaja memiliki sejumlah kebutuhan sosial dasar. Kebutuhan sosial dasar tersebut termasuk kebutuhan kasih sayang (ikatan yang aman), teman yang menyenangkan, penerimaan oleh lingkungan sosial, keakraban, dan hubungan seksual. Kebutuhan-kebutuhan ini akan sangat berpengaruh pada kesejahteraan emosi remaja. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka emosi remaja akan terganggu. Karena bagaimanapun juga suasana kelas lebih merupakan situasi sosial ketimbang situasi akademik bagi remaja, maka diabaikan mungkin menjadi masalah tersulit pada remaja.

Kesenjangan: Keterampilan dan sikap versus tugas perkembangan dan kebutuhan

Bayangkan anda adalah seorang remaja yang kebutuhan sosial anda menjadi sangat penting, tugas perkembangan anda kebanyakan berkaitan dengan urusan sosial, anda dipandang memiliki kemampuan dan peluang untuk bersosialisasi, tetapi anda “ada tapi tidak ada”. Lalu kira-kira apa pendapat anda dan orang lain tentang perkembangan sosial anda?

Bagaimana pun juga, jika dilihat dari perkembangan sosial remaja, memang terdapat kesenjangan. Neglected dapat dipandang sebagai siswa yang tugas perkembangan sosialnya terhambat.

Remaja memiliki keterampilan, sikap dan tugas perkembangan baru berkenaan dengan kehidupan sosial dengan teman sebaya. Pada masa remaja berkembang social cognition, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain dan lingkungan sosial. Remaja memahami sifat orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat nilai-nilai maupun perasaannya. Pemahaman ini mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrab dengan remaja lainnya terutama teman sebayanya, baik melalui jalinan persahabatan maupun percintaan. Berkaitan dengan social cognition pada remaja, remaja memiliki tugas perkembangan untuk mempererat tali persahabatan dengan orang lain. Berkenaan dengan mempererat tali persahabatan dengan orang lain Havighurst dalam Yusuf (2005) mengutarakan salah satu tugas perkembangan sosial yaitu mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Lebih jauh lagi Yusuf (2005) menuliskan tujuan perkembangan sosial remaja beranjak dari kekakuan dalam bergaul menuju keluwesan dalam bergaul dengan teman sebaya. Pada masa remaja ini juga berkembang sikap conformity, yaitu kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasan kegemaran atau keinginan teman sebaya. Perkembangan sikap komformitas pada remaja dapat memberikan dampak yang positif maupun yang negatif bagi dirinya. Dengan munculnya kemampuan dan sikap baru yang muncul pada diri remaja ini maka remaja memiliki peluang yang besar untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman sebayanya.

Selain itu, remaja memperoleh pengetahuan sosial yang lebih banyak, dan perbedaan variasi antara individu dalam hal seberapa baik pengetahuannya dalam mencari teman, dalam usaha membuat teman sebayanya lebih menyukainya dan seterusnya. Sejatinya dengan mulai adanya kemampuan seperti ini remaja akan menemukan pola komunikasi yang dapat membuat mereka disenangi atau dimusuhi teman sebayanya. Sayangnya pada siswa yang diabaikan kemampuan untuk menemukan pola komunikasi seperti ini belum muncul yang mengakibatkan mereka memiliki social impact dan social preference yang rendah. Dengan kata lain siswa yang diabaikan memiliki perkembangan kognisi sosial yang terhambat.

Beberapa siswa remaja sering melakukan kesalahan dalam melakukan hubungan sosial. Beberapa remaja terkadang terlalu mementingkan kepentingan pribadinya sehingga timbul berbagai bentuk hubungan sosial yang tidak tepat (maladjusment relationship). Terlalu mementingkan pribadi dapat menyebabkan siswa remaja yang non-conformist, yaitu ketika remaja mengetahui apa yang diharapkan oleh orang-orang di sekitarnya, tetapi mereka tidak menggunakan harapan tersebut untuk untuk mengarahkan tingkah laku mereka. Kesalahan dalam melakukan hubungan sosial tersebut dapat berdampak pada penerimaan sosial dan dampak sosial yang rendah sehingga menjadikan dia diabaikan teman sebayanya.

Apa yang terjadi sesungguhnya?

Tentunya pasti ada perbedaan proses sosialisasi yang dilakukan siswa neglected dibanding dengan siswa lainnya dalam melakukan hubungan sosial. Dalam melakukan hubungan sosial atau pun sosialisasi ada tiga hal penting yang turut berpengaruh, yaitu persepsi sosial, daya tarik interpersonal (interpersonal attraction) dan sikap sosial. Sehingga mungkin saja neglected children memiliki kesulitan dalam proses sosialisasi tersebut.

Persepsi sosial: Menilai lingkungan dan lingkungan menilai kita

Persepsi sosial adalah kesadaran akan adanya orang lain atau perilaku orang lain yang terjadi di sekitarnya. Dengan persepsi sosial ini kehadiran orang lain akan diterima secara berbeda tergantung kepada atribut yang dibawa oleh orang lain tersebut. Dalam ruang lingkup kelas, Jhonson (Sunarya, 2008) menjelaskan bahwa perbedaan penerimaan oleh teman kelas terjadi karena persepsi masing-masing individu yang menjadi anggota kelas, lingkungan kelas tempat terjadinya interaksi, dan pola kepemimpinan yang diterapkan oleh guru dalam kelas. Persepsi sosial mempengaruhi penerimaan sosial siswa. Jika persepsi sosial siswa positif, maka siswa tersebut cenderung memiliki penerimaan sosial tinggi. Sebaliknya jika persepsi sosial siswa negatif maka siswa tersebut cenderung memiliki penerimaan sosial yang rendah.

Siswa yang memiliki status neglected memiliki persepsi sosial negatif. Persepsi sosial yang negatif ini yang mengarahkan dia untuk tidak bersosialisasi dengan baik, sehingga penerimaan sosial yang rendah.

Daya tarik interpersonal: Jika menarik tentulah mudah bersosialisasi

Perilaku individu dalam kelompok tertentu akan berbeda dengan perilakunya di dalam kelompok lain, dan perilaku individu dalam kelompok berbeda pula dengan perilakunya pada saat sendiri. Dengan munculnya kesadaran akan orang lain atau perilaku seseorang dalam suatu situasi, maka akan muncul kesan bahwa dalam perilaku orang lain terdapat ciri yang dapat dikenal (atribut) yang akan merupakan daya tarik antar pribadi (interpersonal attraction). Jika kesan terhadap atribut telah terbentuk maka lama kelamaan akan timbul penilaian dari seseorang terhadap yang lainnya. Penilaian tersebut dapat berupa penilaian positif atau juga penilaian negatif. Daya tarik interpersonal siswa berpengaruh pada pengaruh sosial siswa tersebut. Jika siswa memiliki daya tarik interpersonal yang baik maka siswa tersebut cenderung memiliki pengaruh sosial yang tinggi. Sebaliknya jika siswa memiliki daya tarik interpersonal yang buruk maka siswa tersebut cenderung memiliki pengaruh sosial yang rendah, sehingga sedikit atau tidak sama sekali pengaruh sosial.

Berkenaan dengan konsep tersebut neglected student memiliki daya tarik interpersonal yang buruk. Hal ini mengakibatkan siswa tersebut dinilai kurang pantas untuk dijadikan teman, tidak dianggap keberadaannya, tidak memiliki pengaruh dalam kelasnya.

Sikap sosial: Penentu segalanya

Penilaian individu terhadap orang lain dalam kelompok berdampak pada perilaku respon terhadap hasil penilaian. Kecenderungan merespon individu dalam kelompok disebut sikap sosial. Sikap sosial bergantung pada penilaian individu berdasarkan daya tarik interpersonal, jika penilaian individu terhadap orang lain positif, maka individu tersebut cenderung untuk merespon secara positif (mengenal, menjadikan teman, mendukung, memuja, menghargai, dan sebagainya), sebaliknya jika penilaian individu terhadap orang lain negatif, maka individu tersebut cenderung merespon secara negatif (tidak mengenal, tidak menjadikan teman, menolak dan sebagainya).

Berkenaan dengan konsep tersebut maka daya tarik interpersonal neglected student dinilai rendah oleh teman yang lain sehingga siswa lain merespon negatif siswa tersebut. Respon negatif terhadap neglected student dapat berupa pengabaian, atau tidak dijadikan sebagai teman.

Apa yang mereka butuhkan?

Siswa yang diabaikan memiliki karakteristik pemalu (shy) atau menarik diri (withdrawn) dengan sosiabilitas rendah, perilaku prosocial behavior rendah hubungan sosial yang rendah yang ditandai dengan dampak sosial yang rendah serta penerimaan sosial yang rendah.

Dengan rendahnya dampak sosial dan penerimaan sosial ini maka yang dibutuhkan siswa yang diabaikan adalah cara untuk berinteraksi lebih efektif dengan teman sebaya. Untuk dapat berinteraksi dengan baik, maka siswa yang diabaikan memerlukan suatu bantuan professional untuk dapat berinteraksi secara lebih efektif dengan teman sebayanya. Duck dalam Santrock (1996) menjelaskan bahwa tujuan dari program pelatihan bagi siswa yang diabaikan adalah untuk menolong mereka menarik perhatian dari teman sebaya dalam hal yang positif dan mempertahankan perhatian mereka dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, dengan mendengarkan cerita mereka dengan cara yang hangat dan bersahabat dan dengan mengucapkan hal-hal tentang diri mereka sendiri yang berhubungan dengan minat teman sebaya. Mereka juga diajarkan untuk memasuki kelompok yang lebih efektif.

Dijelaskan pula sebelumnya bahwa dalam proses sosialisasi terdapat tiga hal penting yang turut berpengaruh, yaitu persepsi sosial, daya tarik interpersonal dan sikap sosial. Siswa yang diabaikan adalah siswa yang memiliki persepsi sosial yang cenderung negatif, daya tarik interpersonal yang cenderung rendah dan sikap sosial yang netral cenderung negatif. Maka dari itu program pelatihan keterampilan sosial bagi siswa yang diabaikan harus melingkupi ketiga runtutan proses sosialisasi tersebut.

Program bimbingan pribadi sosial yang diabaikan merupakan kegiatan yang terprogram dan terstruktur untuk membantu perkembangan kognisi sosial remaja yang tepat. Hal ini dikarenakan siswa yang diabaikan bisa jadi memiliki kognisi sosial yang tidak tepat. hal ini sejalan dengan yang dituliskan para ahli bahwa anak dan remaja mungkin memiliki kesulitan dalam hubungan teman sebaya karena mereka kurang memiliki kemampuan kognisi yang tepat (Santrock, 2003: 224). Program yang terstruktur tersebut terentang dari rekonstruksi persepsi sosial, pembentukkan citra diri yang menarik (daya tarik interpersonal), dan pengajaran cara bersikap dengan teman sebaya.

Jadi sebenarnya neglected itu?

Neglected children bagaimanapun juga adalah siswa yang diabaikan dan bahkan mungkin tidak dikenal oleh teman kelas mereka sehingga tentu saja ada kesenjangan perkembangan sosial yang terjadi. Kesenjangan perkembangan sosial yang mungkin terjadi bisa saja berupa kecilnya perkembangan kognisi sosial, bersikap non-conformist, dan tugas perkembangan sosialnya terhambat. Selain itu, ditinjau dari perilakunya, neglected student memiliki karakteristik pemalu (shy) atau menarik diri (withdrawn) dengan sosiabilitas rendah, prosocial behavior rendah, hubungan sosial yang rendah yang ditandai dengan dampak sosial yang rendah serta penerimaan sosial yang rendah.

Sehingga siswa seperti ini membutuhkan bantuan spesifik sesuai dengan karakteristik mereka, yaitu suatu program yang menolong mereka menarik perhatian dari teman sebaya dalam hal yang positif dan mempertahankan perhatian mereka dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, dengan mendengarkan cerita mereka dengan cara yang hangat dan bersahabat dan dengan mengucapkan hal-hal tentang diri mereka sendiri yang berhubungan dengan minat teman sebaya. Mereka juga diajarkan untuk memasuki kelompok yang lebih efektif.

Tentang fajarjuliansyah, CHt.

mahasiswa bimbingan dan konseling UPI yang punya minat khusus dalam psikoterapi kognitif.
Pos ini dipublikasikan di About Pshycology and Conseling. Tandai permalink.

2 Balasan ke NEGLECTED CHILDREN: ADA TAPI TAK ADA

  1. rhythmofd'rain berkata:

    ok…
    gud artikel….
    fenomena yg aneh…menang antara ada dan tiada mereka itu..heee…
    lanjutkan BLOG nya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s