BOLOS DALAM BEBERAPA PENDEKATAN PSIKOLOGI


Dalam rangka menyelesaikan suatu permasalahan psikologis, suatu permasalahan memang bisa dipandang dari berbagai pendekatan psikologis. Karena pada dasarnya setiap pendekatan psikologi memiliki konsep dasar, struktur kepribadian, pandangan tentang masalah, dan pandangan tentang cara menyelesaikan permasalahan yang berbeda-beda.

Artikel ini menyediakan permasalahan bolos sekolah ditinjau dari berbagai pendekatan psikologis. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di About Pshycology and Conseling | Meninggalkan komentar

KONSELING KELOMPOK PSIKOANALISIS


  1. Latar Belakang Kelompok Psikoanalisis

Secara teori psikoanalisis Freud tidak pernah membahas secara khusus bagaimana teori psikoanlisis diterapkan pada konteks kelompok, namun secara umum pelaksanaan teori psikoanalisis untuk kelompok terdapat dalam bukunya Group Psychology and Analysis of the Ego (1992). Dalam buku tersebut Freud menjelaskan sifat kelompok dan bagaimana kelompok mempengaruhi kehidupan individu. Freud menerik kesimpulan bahwa Baca lebih lanjut

Dipublikasi di About Pshycology and Conseling | Meninggalkan komentar

ANALISIS TRANSAKSIONAL DALAM KONSELING KELOMPOK


 

Sekilas Tentang Eric Berne

Tokoh  pencetus analisis transaksional adalah  Eric Leonard  Bernstein  yang lebih terkenal  dengan  nama  Eric Berne anak seorang ahli fisika, dia tumbuh di sebuah daerah yahudi miskin wilayah Montreal Canada. Berne  mendapatkan gelar M.D. dari McGill University Montreal  pada  tahun 1935, dan menyelesaikan pendidikan spesialisasi  psikiater di Yale University  beberapa saat kemudian. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di About Pshycology and Conseling | Meninggalkan komentar

( MUSLIMAH ) SEPULUH BANTAHAN BAGI ALASAN MENOLAK JILBAB


dari facebook yusuf mansyur network

( MUSLIMAH ) SEPULUH BANTAHAN BAGI ALASAN MENOLAK JILBAB 

1. Jilbab pakaian orang Arab

Bantahan: Salah besar! Jilbab pakaian wanita muslimah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut;

Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Quran berfirman yang artinya : “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih muda untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang,” (Al-Ahzab : 59).

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya serta tidak menampakkan perhiasannya kecuali ( yang biasa ) nampak darinya. Dan hendakkah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka,” ( QS. 24 : 31).

2. Percuma pakai jilbab kalo masih blom baik

Bantahan: Ente merasa blom baik? Kasihan deh lo… orang biasanya pede dengan dirinya orang baik, kok malah merasa belom baik! Trus, kenapa juga gak berjilbab kalo memang pengen baik. Kalau tetep ga mo pake jilbab ga kan pernah baik, lha selalu langgar perintah Allah, gimana mo baik.

Trus, kenapa juga gak berjilbab kalo memang pengen baik. Kalau tetep ga mo pake jilbab ga kan pernah baik

Lha selalu langgar perintah Allah, gimana mo baik.

3. Atas tertutup bawah kebuka!

Jilbab yang pengertiannya juga hijab (tirai), adalah penghalang seorang muslimah gak hanya dari pandangan lelaki lain, tapi juga penghalang seorang muslimah untuk berbuat maksiat, penghalang seorang muslimah dari perbuatan yang dilarang agama. Perkataan seperti ini biasa dilancarkan orang kafir dan orang-orang Islam yang nggak ngerti.

4. Jilbab? Nggak deh…panasnya itu loh

Bantahan: Ketahuan…blom pernah pake jilbab secara bener! Pake dong yang bener. Di dalam pakai pakaian dalam, trus pake pakaian luar yang panjang. Bagian bawah pakai celana panjang yang longgar (untuk menghindari rok yang tersingkap hingga memperlihatkan betis/aurat), baru pake rok yang juga longgar. Udah coba? Blom kan? Makanya jangan sembarang ngomong kalo blom coba. Tanya yang udah pake, adem banget lagee..

5. Rambut jadi bau!

Bantahan: Setiap rambut juga bau kalo gak pernah di keramas, mau pake jilbab kek, mau nggak, tapi jelas rambut hitam ente tetap terjaga hitam alami. Dari pada panas-panasan rambut jadi merah … plus bau!

6. Ada ninja …

Bantahan: Dari pada ada orang kafir! Pakaian yang anda pake adalah pakaian orang kafir, tahu nggak? Denger nih hadist nabi:

Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah berpakaian seperti orang-orang yang tidak beriman “.

“Barang siapa meniru suatu kaum, dia termasuk kaum itu!” hadist ini merupakan peringatan terhadap orang-orang Islam agar tidak mengikuti perilaku nonmuslim.

“Barang siapa meniru suatu kaum, dia termasuk kaum itu!” hadist ini merupakan peringatan terhadap orang-orang Islam agar tidak mengikuti perilaku nonmuslim.

Ada lagi nih dari hadist nabi; “Barang siapa meniru suatu kaum, dia akan dibangkitkan bersama kaum yang dicontoh-contohkannya itu.”

Mau dibangkitkan di akhirat bersama kaum kafir? Kalo gue, nggak deh …

7. Pake jilbab kok sombong?

Bantahan: Yang gak pake jilbab sombong juga lebih banyak!

8. Jilbab buat susah kerja

Bantahan: Ah, nggak tuh! Kalo tempat kerja yang bener gak mungkin ngelarang orang pake jilbab. Kalo tempat kerja yang nggak bener memang menyuruh para wanitanya untuk berpakaian seksi. 

Mau kerja di tempat yang gak bener? melawan bahkan menentang perintah Allah SWT ?

9. Pake jilbab biasa aje, kedombrong gitu! Gak modis tau …

Bantahan: Emang jilbab fungsinya menutup aurat kok? Mau jadi tontonan? Terserah (ini yang di istilahkan nabi berpakaian tapi telanjang, wallahu alam). Tapi (seperti kata AA Gym) bukankah lebih baik jadi wanita tuntunan, bukan tontonan!

10. Nanti aje kalee kalo udah tua…

Bantahan: Jaminan dari mane ente bisa hidup ampe tua? Emang ada perjanjiannya? Atau ente punya Sertifikat Jaminan Hidup Sampe Tua? Kalo ada gak apa-apa… boleh aja. Entar kalo udah deket dengan perjanjian saatnya ente meninggal pake deh tuh jilbab, ama perbanyak ibadah!Gambar

Dipublikasi di About Pshycology and Conseling | Meninggalkan komentar

Hidup Itu Pilihan


FAJAR JULIANSYAH

T

uhan mengilhamkan pada manusia jalan kefasikan dan jalan ketaqwaan, selanjutnya manusia dibebaskan memilih tertarik pada jalan kefasikan atau tertarik pada jalan ketaqwaan, namun keberuntungan dimiliki oleh manusia yang menyucikan jiwanya karena barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya, juga sebaliknya kerugian bersama orang yang mengotori jiwanya tersebut, karena barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula”

 

Hidup itu pilihan, dan pilihan selalu datang bersama konsekuensi yang ada dibaliknya, sedangkan konsekuensi memang selalu seperti koin yang bemata dua: menjadi daya tarik dan menjadi daya tolak untuk mengambil keputusan dan begitu seterusnya sehingga setiap pengambilan keputusan harus disadari dengan pikiran, diyakini dengan iman untuk seterusnya disyukui: dihadapi, dihayati dan dinikmati.

      Hidup itu pilihan, bisa memilih instan bisa memilih berproses setahap demi setahap. Yang instan memiliki daya tarik mudah jadi dan memiliki daya tolak mudah mati, seperti layaknya kita menonton video dengan…

Lihat pos aslinya 513 kata lagi

Dipublikasi di About Pshycology and Conseling | Meninggalkan komentar

Hidup Itu Pilihan


T

uhan mengilhamkan pada manusia jalan kefasikan dan jalan ketaqwaan, selanjutnya manusia dibebaskan memilih tertarik pada jalan kefasikan atau tertarik pada jalan ketaqwaan, namun keberuntungan dimiliki oleh manusia yang menyucikan jiwanya karena barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya, juga sebaliknya kerugian bersama orang yang mengotori jiwanya tersebut, karena barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula”

 

Hidup itu pilihan, dan pilihan selalu datang bersama konsekuensi yang ada dibaliknya, sedangkan konsekuensi memang selalu seperti koin yang bemata dua: menjadi daya tarik dan menjadi daya tolak untuk mengambil keputusan dan begitu seterusnya sehingga setiap pengambilan keputusan harus disadari dengan pikiran, diyakini dengan iman untuk seterusnya disyukui: dihadapi, dihayati dan dinikmati.

      Hidup itu pilihan, bisa memilih instan bisa memilih berproses setahap demi setahap. Yang instan memiliki daya tarik mudah jadi dan memiliki daya tolak mudah mati, seperti layaknya kita menonton video dengan cara dipercepat, cerita bisa dipilah yang menariknya saja namun cerita cepat selesai. Yang berproses memiliki daya tarik lama mati namun memiliki daya tolak lama jadi, layaknya menonton tv kita harus melihat iklan, melihat hal-hal yang tak ingin di lihat namun  menempuh lama untuk mengetahui ending ceritanya.

      Hidup itu pilihan, ingin tetap di comfort zone atau mengejar cita-cita. Yang ingin tetap di comfort zone memiliki daya tarik kepuasan atas materi yang ada namun memiliki daya tolak tidak memiliki kepuasan batin dalam melakukan sesuatu. Yang mau mengejar cita-cita memiliki daya tarik akan kepuasan batin yang kelak akan dimiliki, namun memiliki daya tolak harus berproses kembali setelah mendapatkan sesuatu, dan bisa jadi memulai dari nol.

Hidup itu pilihan bisa memilih berbuat buruk atau berbuat baik. Yang ingin berbuat buruk memiliki daya tarik mudah dilakukan (dibantu greed, desire, dan bisikan syaitan) menyenangkan, memiliki kepuasan batin seketika, dan memiliki daya tolak perasaan bersalah, cenderung tidak tenang, cenderung serakah dan tidak bersyukur, dan janji neraka. Yang ingin berbuat baik memiliki daya tarik, janji syurga, bersyukur, merasa tenang dan aman tetapi memiliki daya tolak sulit dilakukan (didorong drive, greed, desire, motive dan digoda syaitan).

Hidup itu pilihan, mau memilih apapun selalu dihadapkan dengan daya tarik dan daya tolak. Daya tarik dan daya tolak selalu berujung konsekuensi yang selalu melipat-ganda, bervibrasi, kemudian kembali kepada kita dengan balasan yang lebih besar. Konsekuensi kebaikan akan berupa kepercayaan, penghormatan, rasa kebersamaan, diterima, dan syurga, konsekuensi keburukan akan berupa kesedihan, perasaan bersalah, rasa tidak tenang, rasa tidak aman, tidak diterima.

      Hidup itu pilihan, namun selalu ada pilihan yang berujung baik. Pilihan yang baik memang pilihan yang ideal, dan cenderung sulit diambil oleh manusia yang cenderung bersifat zhalim dan bodoh (QS al-Ahzab, 33:72), sombong dan congkak (baca QS. An-Nisaa, 4: 36) sangat mengingkari nikmat (QS.al-Hajj, 22:66). Pilihan yang baik memang perlu dilandasi kesabaran lebih, bersyukur lebih, keuletan lebih, waktu lebih untuk mendapatkan hasil yang lebih. Tak seperti pilihan yang berujung tidak baik memang hanya perlu sedikit kesabaran, sedikit keuletan, dan sedikit waktu, dan minim penggoda namun  setimpal dengan hasil yang juga minim.

      Hidup itu pilihan maka pilihlah yang baik. Cara memilih yang baik dimulai dengan pilihlah untuk mengendalikan diri karena mengendalikan diri juga merupakan pilihan, kendalikan diri dari perasaan iri, karena perasaan iri hanya akan membimbing kita menjadi tidak bersabar dan bersyukur menuju jalan yang instan dan berujung pada memilih cara yang buruk, kendalikanlah diri dari perasaan dengki karena perasaan dengki hanya akan membimbing kita menjadi orang yang tak bijak, yang akan membimbing kita ke jalan dzolim kepada orang yang kita iri dan dengki. Kendalikan diri sehingga iri dan dengki tidak kembali kepada diri kita dengan balasan yang lebih besar.

 

Maka berlindunglah kepada Tuhan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki kepada kita, dan berusahalah untuk bersyukur dan bersabar agar pilihan kita baik agar kita tidak menjadi orang yang iri lebih-lebih pendengki, mengingat “barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” serta semua tindakan kita terhadap orang lain merupakan apa yang akan kita dapat dari orang lain pula –law of effect. Wallahua’lam

Dipublikasi di About Pshycology and Conseling | 1 Komentar

CHAPTER PEMILIHAN KULIAH


Hidup itu pilihan, dan pilihan selalu datang bersama konsekuensi yang ada dibaliknya, sedangkan konsekuensi memang selalu seperti koin yang bemata dua: menjadi daya tarik dan menjadi daya tolak untuk mengambil keputusan dan begitu seterusnya sehingga setiap pengambilan keputusan harus disadari dengan pikiran, diyakini dengan iman untuk seterusnya disyukui: dihadapi, dihayati dan dinikmati.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di About Pshycology and Conseling | Meninggalkan komentar