Kenapa orang tetep punya Cinta yang irasional?


Fajar Juliansyah

Kalo punya cinta itu mah manusiawi, dan membahagiakan, tapi kalo cintanya penuh keirasionalan? Pasti bikin tidak bahagia sama sekali. Nah jadi sekarang pertanyaannya lain lagi. Kalo sudah tahu pikiran kita sendiri yang ngebentuk perasaan-perasaan kita (JADI MULAI DETIK INI KITA DEKLARASIKAN SUMPAH TIDAK AKAN MENYALAHKAN CINTA ATAU ORANG LAIN YANG KITA CINTAI), dan perasaan irasional bisa merenggut kebahagian kita waktu “punya cinta” kenapa kita masih memilih untuk tidak bahagia dengan memikirkan sesuatu yang irasional?

Jawabannya sih simpel. Soalnya kita manusia. Menurut Ellis – bapaknya RET atau REBT, dan kakeknya CBT, manusia itu secaraalamiah dan normal berpikir irasional. Kita memiliki kecenderungan yang melekat dalam diri kita untuk membesar-besarkan, memandang hidup kita dikaitkan dengan hal-hal negatif yang mutlak. Menghakimi diri sendiri dan sesama dengan cara yang menggampangkan dengan rasionalisasi sepele yang dibesar-besarkan. Kata Wayne Froggatt sifat-sifat yang dipandang berat sebelah ini dapat ditemukan dalam semua budaya dan periode sejarah. Katanya sejumlah penelitian sudah bisa membuktikan bahwa hal tadi bisa diturunkan secara genetis. Dan yang pasti otak kita lebih seneng dengan cara-cara berpikir yang gampang, dan tidak terlalu ngotak, bener ga?

Tapi kelemahan “biologis” tadi menurut Wayne Froggatt hanyalah kecenderungan. Pengaruhnya dimodifikasi oleh hal-hal yang terjadi pada diri dalam menempuh kehidupan kita sendiri, jadi pengalaman-pengalaman kehidupan membentuk pandangan kita mengenai suatu kejadian dan akhirnya dari proses belajar yang mungkin tidak disadari ini kita mempertahankan sebuah konstruk berpikir dan merasa. Selain itu upaya belajar (maksudnya upaya belajar itu upaya pencarian sesuatu dengan disadari) juga mempengaruhi kita dalam kita mempertahankan sebuah konstruk berpikir dan merasa. Jadi sebenarnya kita tidak perlu mementingkan gen, jika kita akan memilih bahagia. Anggaplah gen kita adalah gen “bahagia” untuk memudahkan kita mendapatkan kebahagiaan itu.

Selain itu sebenanya masih banyak cara “infeksi” cara berpikir irasional. Kita mempelajari cara berpikir irasional dari orang tua, guru, teman, media, dan sumber-sumber lainnya. Banyak gagasan irasional yang diajarkan untuk mencapai kendali sosial. Misalnya, anak-anak (tidak cuma anak-anak sih) sering diberi tahu bahwa mereka semestinya” atau “ harus” berperilaku dengan cara tertentu (demanding). Bila tidak, mereka akan mendapatkan “nilai” yang rendah. Sering kan diperlakuin seperti ini di rumah, sekolah, atau di lingkungan bermain? Kalau sering berarti kita sudah diberi “pelajaran” untuk irasional. Kata Wayne Froggat, kita mengambil banyak kepercayaan irasional pada masa kanak-kanak—masa kanak-kanak itu masa usia pra-Sekolah Dasar, soalnya kemampuan kita untuk mengkritik belum sepenuhnya matang, itulah ssat kita paling rentan dan mudah menerima ajaran dari tokoh-tokoh otoritas.

Jadi kebayangkan seberapa irasionalnya kita, karena sudah “didoktrin” sejak balita? Silahkan bayangkan selama beberapa detik! Apa jawaban kamu? Kalo jawabannya iya, berarti kamu terjebak pada keyakinan diri sendiri bahwa kamu irasional, jangan verbalisasi kan hal itu, karena irrational dan rational bisa kita pilih melalui pikiran kita. Jangan menilai (people-ratting) diri kita begitu sederhana dan pesimis, kita bisa belajar, kita dapat mengendalikan pikiran kita, dan masa lalu dapat kita modifikasi dimulai dari kapanpun termasuk ketika kamu membaca tulisan ini.

Kembali lagi ke fokus pembahasan. Kita belajar sepanjang hidup, “menabung” keyakinan irasional dalam pikiran kita. Setiap pengalaman hidup yang memberikan akibat pada perasaan buruk, dapat menguatkan keyakinan bahwa peristiwa eksternal (A) menyebabkan reaksi internal yang berupa perasaan dan tindakan (C). Kemudian akan mengarah pada hiperbola dan tuntutan-tuntutan agar hal-hal semacam ini tidak terjadi. Misalkan Lia marah (C) karena Andi tidak memperhatikan pembicaraannnya (A), kemudian Lia akan “memperbuas” hal itu. Sebenernya yang membuat kita membesar-besarkan masalah adalah agar kita mendapatkan simpati dan perhatian bukan? Sehingga paling tidak orang akan merasakan penderitaan kita dan mau “melakukan sesuatu” untuk kita dan pada kasus Lia untuk menuntut Andi agar memperhatikan dengan dalih irasional “seorang pacar itu harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh pacarnya” –dengan kata lain Lia mengubah A.

Dengan mengubah A seperti yang Lia lakukan kita mungkin menemukan perasaan lega yang sementara — karena situasi A mungkin terjadi lagi. Akibatnya, akan makin memperkuat anggapan bahwa keadaan yang tidak kita sukai seharusnya tidak ada atau tidak boleh ada. Irasional kan kalo kita harus menghilangkan satu situasi demi untuk membuat perasaan kita lega sementara? Jadi apa pilihan kamu? Akan merubah A untuk perasaan lega sementara atau akan merubah B sehingga dapat merasakan bahagia?

Model utama pembentuk keyakinan akan “cinta” adalah orang tua

Orang tua sebagai agen utama proses belajar anak, juga merupakan model utama pembentukkan keyakinan akan “cinta”. Sekarang bisa kalian pikirkan pada masa kecil, orang yang paling menyayangi kalian atau orang yang kalian pikir paling mencintai kalian adalah siapa? Orang tua bukan? Bagaimana perilaku mereka? Menyayangi, melindungi, mengatur, membuat kita terlena sebagai seorang yang tak berdaya dan sangat membutuhkan cinta, tapi itulah tugas mereka, sebagai figure penyayang dan perawat yang tidak akan pernah rela anaknya terluka.

Yang menjadikannya irasional adalah interpretasi kita tentang “cinta” yang diperagakan terhadap orang lain. Tahu MP-3 yang bisa ngerekam? Mungkin seperti itu pikiran dan keyakinan-keyakinan kita. Kita merekam segala pikiran dan keyakinan baik rasonal maupun irasional, dan kecenderungan manusia adalah kecenderungan untuk memutar pikiran irasional – yang paling mudah.

Kendali eksternal Makin memperburuk keadaan “cinta”

Apa sih sebenernya yang mengendalikan kita, masa lalu? Orang lain? Atau keadaan? Kalo jawabannya masih ketiga hal itu, berarti kamu masih hidup dalam cerita dongeng. Saya akan coba jelaskan bahwa ketiga hal itu hanya mitos dalam mengendalikan diri kamu. Mitos itu dapat jadi boomerang bagi kita kalo tetep kita anut. Dan kalo kita pengen bahagia jangan lempar boomerang terhadap diri kita sendiri, bisa dua kali kita kena boomerang itu. Bayangin aja kalo Lia pernah putus gara-gara tidak diperhatikan oleh kekasihnya, maka jika ada keadaan lain seperti itu maka Lia akan putus lagi. Wah kayanya sedih tak berujung kalo jadi Lia. Oke mari kita bahas tentang mitos ini.

Pertama. Apa benar masa lalu yang mengendalikan kita? Jawabannya adalah bukan. Yang terjadi saat kita balita, saat kita kanak-kanak, saat kita anak-anak, saat kita remaja, kemarin lusa atau bahkan kemarin tidak otomatis membentuk perasaan dan tindakan kita. Masa lalu bukan sekarang. Pengalaman di masa lalu memang membantu membentuk sistem keyakinan kita. Namun demikian, keyakinan yang kita pegang sekarang lah yang menyebabkan reaksi kita di masa kini. Kita sendiri lah yang memilih untuk mempertahankan atau mengubah keyakinan lama. Yang pasti kita tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa mengubah pemberitahuan kita kepada diri sendiri sehingga terbentuk sistem keyakinan sekarang.

Yang kedua. Orang lain menyebabkan reaksi-reaksi kita? Jawabannya tetap bukan. Keyakinan bahwa orang lain dapat menggerakkan perasaan dan tindakan kita adalah keyakinan yang tidak logis. Memangnya kita dilengkapi sebuah tombol yang ketika dipencet oleh orang lain, kita langsung menuruti kehendak mereka? Tidak kan? Kita bisa memilih kan? Sebenarnya, apapun yang dikatakan atau dilakukan oleh orang lain, hanya dapat mempengaruhi kita jika kita membiarkan hal itu terjadi, dengan kata lain kamu “mengatakan” pada diri kamu sendiri tentang sesuatu yang menyangkut perilaku mereka. Kita dapat memilih reaksi seperti apa yang akan kita keluarkan.

Ketiga. Apa keadaan mengendalikan kita? Tentu saja tidak. Ketika diputuskan pacar, ada orang yang menangis tapi ada juga yang tertawa. ada yang seneng, ada yang kesal, ada yang masa bodo, ada yang berjuang untuk mendapatkan kembali tetapi ada juga yang menerima. Kenapa hal itu terjadi? Karena setiap orang bereaksi dengan cara yang berbeda terhadap hal yang sama, artinya keadaan tidak mengendalikan kita, hal ini akan bergantung pada bagaimana kita memandang akan suatu kejadian.

Jadi jelaslah bahwa yang mengendalikan kita adalah kita sendiri, bukan orang lain, bukan masa lalu dan bukan keadaan. Yang paling memegang kendali kita adalah pandangan kita saat ini tentang suatu keadaan. Nah yang jadi pertanyaan, apakah kita akan terus-menerus tidak bahagia dengan tetap menyalahkan orang lain atas perasaan tidak bahagia kita? Padahal telah beberapa kali saya bahas bahwa kita dapat memilih tidak bahagia atau memilih bahagia dengan mengambil kontrol penuh atas pikiran kita.

Jika kita tidak mengambil kontrol penuh atas pikiran kita, dan tetap kendali eksternal sebagai suatu keyakinan yang ada dalam diri ketika berhubungan dengan orang lain, maka kita akan tetap menerima kesedihan. Saya teringat kata-kata Agus Gurniwa di film Jomblo, katanya gini “kalo AA nyari yang terbaik, mungkin lama-kelamaan AA bakalan ninggalin Neng” saya interpretasi kalimat ini lebih luas, jadi misalkan kita tetep tidak mau menerima keadaan diri (tanggung jawab diri) dan tetep mencari solusi terbaik dari lingkungan (lingkungan mengendalikan) lama kelamaan seseorang bakalan sedih juga.

Nah dari Pernyataan Agus ini kita memahami bahwa Agus bertanggung jawab atas keadaannya. Tidak menekankan “harus”, dan tidak menyalahkan lingkungan. Tidak merubah A, melainkan merubah B. Berbeda dengan mitos-mitos yang saya jelaskan tadi. Semua mitos tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu agar seseorang tidak bertanggung jawab atas perasaan dan perilakunya dan bukannya merubah B, malah merubah A. Menerima tanggung jawab bukanlah berarti menerima disalahkan atau menyalahkan. Sikap menyalahkan bersikap moralistik. Tidak penting dan tidak membantu. Sikap ini membawa suatu stigma moral. Sikap menyalahkan menyatakan bahwa kita tidak hanya menyebabkan sesuatu terjadi, tetapi juga patut dihukum atas perbuatan tersebut. kalo tanggung jawab itu sangat berguna, tanggung jawab atas hal-hal yang kita timbulkan justru akan memotivasi kita untuk menyusun perubahan diri. Bukan karena “harus” tetapi karna “ingin”. Orang yang bertanggung jawab cenderung merubah pola pikir ketimbang merubah situasi. Orang yang bertanggungjawab melakukan hal ini karena mereka menyadari bahwa segala sesuatu yang dia lakukan memiliki dampak tertentu, dan dampaknya itu diterimanya dengan menanggung konsekuensi-konsekuensnya secara rasional. Sedangkan orang yang menyalahkan cenderung merubah situasi (bahkan menghapus situasi) tertentu. Orang yang menyalahkan cenderung memiliki pemikiran moralistik, dibandingkan rasional, sehingga dia melimpahkan konsekuensi atas situasi tertentu yang dia terima dengan menyalahkan dan menghukum orang lain.

Jadi mana yang akan kamu pilih? Bertanggung jawab atas terciptanya emosi dan tindakan atau menyalahkan orang lain dan situasi tertentu? Ketahuilah bahwa sikap menyalahkan dan bertanggung jawab hanyalah suatu cara berpikir. Sikap mana yang akan kamu terapkan merupakan pilihan kamu.

About these ads

Tentang fajarjuliansyah, CHt.

mahasiswa bimbingan dan konseling UPI yang punya minat khusus dalam psikoterapi kognitif.
Tulisan ini dipublikasikan di View of Cinta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s