Cinta itu bisa bikin irasional


Fajar Juliansyah

Tulisan ini ngebet banget saya tulis ketika ngedenger mantan saya jadian sama temen sejak awal masuk kuliah saya. Ketika ngedenger itu ada perasaan “entahlah” yang bikin ga enak. Pikiran saya kacau—biarpun ga nampak dari luar – perasaan saya amat tidak bahagia waktu itu, dan untungya sebelum saya berbuat yang “aneh-aneh” kutub introyeksi saya bilang “eits, kenapa harus kaya gini, bukannya saya udah milih untuk bahagia? Kenapa ga bersyukur? Kenapa ga mikir temen saya akan sangat baik pada mantan saya itu? Kenapa ga mikir untuk ngucapin selamet?” Dan akhirnya saya berhasil rasional. Perasaan-perasaan sakit jadi ga terlalu terasa—walaupun masih sedikit terasa– dan yang jelas saya tidak berbuat apapun yang bisa bikin orang lain khususnya saya terluka.

Sebenernya yang ingin saya katakan disini adalah cinta itu bikin kita ga rasional atau irasional? Mau bukti? Diparagraf-paragraf selanjutnya saya jelasin.

Cinta itu bisa bikin seseorang jadi kuat, tapi juga bisa bikin orang jadi sangat lemah. Pernah denger orang yang tiba-tiba jadi pahlawan demi ngebela orang yang dicintai? Pasti sering, soalnya orang yang kaya gini banyak pisan. Pernah denger orang yang asalnya kuat, tegar, perkasa tapi di depan orang yang dicintai suka tiba-tiba lemah seakan ga berdaya? Pasti sering apalagi kalo ngebayangin karakter tokoh Bang Tigor di Suami-Suami takut istri, emang wajar sih hal yang begituan terjadi.

Cinta itu bisa bikin orang sangat peduli. Malah bakalan ikut terluka kalo orang yang dicintainya terluka, pernah denger cerita-cerita orang yang rela banget berkorban demi orang yang dicintainya? Mungkin sangat sering, atau pernah denger orang yang bela-belain ngusahain sesuatu yang sangat disukain oleh seseorang yang dicintainya? Pasti sering juga ya? Di salah satu film Indonesia yang kayanya niru banget film Asia pernah diceritain, kalo ada orang yang rela jadi buta untuk ngedonor matanya ke orang yang dicintai. Hal kayak gitu memang mungkin terjadi.

Cinta itu bisa bikin orang sangat bergantung pada orang lain yang dicintainya. Pernah denger orang yang ga jadi ngerjain sesuatu karena orang yang dicintainya ga jadi ngerjain juga? Atau pernah denger orang yang ngajakin orang yang dicintainya buat beli sesuatu, dan sampai ga jadi kalo yang diajakinnya ga bisa, padahal dia sebenarnya ga butuh bantuan dari orang lain itu. Biasa kan? Yang lebih ekstrim, orang bisa jadi manja banget kalo didepan orang yang dia cintai.

Selain hal di atas, cinta juga bisa bikin orang nyakitin orang yang dia cintai. Ga percaya? Pernah denger orang yang Cuma egois ke orang yang dicintainya aja? Pernah denger orang bikin cemburu orang yang dicintai cuma untuk “ngetes” biar tahu seberapa besar rasa cinta yang dia punya? Atau pernah denger orang yang suka tiba-tiba marah ke orang yang dia cintai cuma gara-gara dia ngeliat orang yang dicintainya lagi jalan ngobrol sama orang lain? Pernah denger orang yang sering ngeduga-duga bahkan ngeduga yang jelek-jelek ke orang yang dia cintai? Pernah denger orang ngegede-gedein masalah yang lagi terjadi ketika pacaran? Saya bisa tebak sih pasti jawaban dari semua pertayaan itu adalah pernah atau bahkan sering, bener?

Jadi Pertanyaannya, Apa Gara-gara Cinta?

Banyak “Dampak” aneh dari cinta selain yang udah disebutin di atas tapi yang jelas itu semua merupakan dampak dari perasaan yang sering kita sebut cinta. Tapi sebenarnya pikiran irasional kita yang buat kita bisa berbuat apa aja demi cinta. Kalau kata teori Rational Emotif sebenernya “Apa yang kita rasakan adalah apa yang kita pikirkan”, Nah dari sini kita bakalan ngebentuk perilaku-perilaku. Sedikit bercerita orang sebenernya bukan ngerasa terganggu karena suatu hal, tetapi terganggu karena pandangan yang mereka pegang akan hal itu. Seseorang berperilaku juga gara-gara pikiran tentang hal itu.

Sebenernya memang fungsi pikiran kita untuk mikir kan? Tapi yang jadi masalah adalah ketika kita mikir yang irasional. Bisa berdampak perasaan dan perilaku yang ga enak, ga perlu ga percaya, soalnya udah dijelasin kenapa, dan digambarin contohnya seperti apa. Yang jelas, biar dapet gambaran yang lebih kongkrit saya coba analogikan kaya gini, kalo kalian ditodong sama pensil, pasti ga timbul emosi yang berlebihan, perasaan kalian bakalan biasa-biasa aja, tapi kalo ditodong sama piso gimana? Pasti cemas, gelisah, takut, sampe bisa-bisa keringetan, bahkan ngompol. Nah gitu juga sama pikiran-pikiran ketika kita lagi pacaran. Tapi itu sih masih contoh wajar dan rasional buat nunjukkin kalo pikiran itu bisa menentukan perasaan seseorang. Salah satu yang ga wajar dan irasional adalah pikiran-pikiran menduga-duga (fortune telling), contohnya kaya gini misalkan kita melihat pacar kita lagi ngomong sama orang lain, terus kita malah marah ke pacar kita, karena kita ngeduga-duga pacar kita lagi “main hati” padahal belum tentu kaya gitu kan?

Nah kenapa bisa segitunya? Jawabannya simpel, Ketika kita pacaran, emosi kita sering labil, soalnya perasaan kita lagi “tinggi-tingginya” jadi lebih cenderung gampang “jatoh”, bisa dianalogikan kaya gini orang yang naik tangga kemungkinan jatohnya lebih besar daripada orang yang jalan biasa. Bener ga?

Keadaan Gimana sih yang Sering Bikin kita “jatoh” dan kenapa?

Mari kita Sedikit belajar dari konsep Rational-emotif. Konsep ini nawarin dinamika psikologis dari banyak perilaku termasuk ketika “Cinta itu ada”. Dinamika psikologis di teori ini di jelasin make konsep A-B-C, yang dibuat utuk ngejelasin konsep “Apa yang kita rasakan adalah apa yang kita pikirkan”. Intinya sih, suatu kejadian tidak menyebabkan seseorang memiliki perasaan tertentu, tapi sebelum merasa itu orang tersebut memikirkan dahulu mengenai kejadian itu. A-B-C itu kaya gini:

A= Activating Event

B= Belief

C= Consequences

A itu Activating Event, artinya hal yang mengawali sesuatu, hal itu bisa keadaan lingkungan, peristiwa, pengalaman, atau sekedar pemikiran tertentu tentang sesuatu yang terjadi. A itu memicu pikiran (keyakinan atau Belief) B, yang pada gilirannya menciptakan sebuah reaksi C yang berupa perasaan atau perilaku.

Untuk mengetahui cara kerjanya, kita misalkan pada sebuah kasus seseorang yang merasa tidak dihargai oleh kekasihnya. Ceritanya seperti ini, sewaktu-waktu Lia dan Andi sedang istirahat sekolah, Lia mengajak Andi untuk makan siang bersama di kantin sekolah, setelah di Kantin sekolah Lia menceritakan tentang kejadian tadi pagi bahwasanya dia terlambat bangun sehingga dia tidak sempat untuk makan dan Lia sekarang merasa lapar sekali, tapi Andi merespon dengan tidak antusias pada cerita tersebut, akhirnya Lia marah dan pergi, di rumah dia merasa sedih.

Dalam konsep A-B-C kejadian yang terjadi pada Lia tersebut dapat dijelaskan dengan:

A: Yang mengawali

Andi tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

B: Kepercayaan tentang A

  1. Dia mengabaikan aku. Dia tidak menyukaiku
  2. Sungguh menyedihkan
  3. Aku tidak dihargai sebagai kekasihnya, jadi sepertinya aku tidak berharga dimatanya, aku tidak berharga sebagai seorang pribadi
  4. Pacar itu harusnya bisa jadi tempat berbagi, kalo ga bisav saya harus sedih dan marah

C: Reaksi

Perasaan: tidak berharga, sedih, marah

Perilaku : marah, pergi meninggalkan Andi

Mungkin kita berpikir “mengapa Lia begitu marah, mengapa tidak bertanya ada apa dengan Andi sekarang?” tapi setiap orang menanggapi suatu keadaan berbeda-beda tergantung apa keyakinan yang dia miliki, selain itu orang sering tidak melakukan hal-hal yang sebenernya ingin mereka lakukan. Lia selalu meyakini bahwa ketika pacaran, orang yang menjadi pacar kita harus berbuat apa saja dan harus selalu melakukan hal-hal yang benar, dan Lia harus mendapatkan perhatian penuh dari kekasihnya, apabila tidak, maka dia pantas marah dan mereka harus disalahkan dan dihukum. Karena Lia mengganggap kekasihnya tidak memperhatikan maka Lia pun pantas marah. Hal ini membuat keadaan semakin memburuk. Dengan marahnya Lia dan meninggalkan Andi, Lia akan lebih merasa tidak dihargai, hal ini membuktikan kalau dirinya tidak berharga di mata Andi. Pikiran irasional sering terjadi dari lingkaran setan seperti ini.

Padahal seseorang yang berpikir dengan cara yang berbeda pada peristiwa yang sama, akan merasa dan bereaksi berbeda pula, kita lihat misalnya:

A: Yang mengawali

Pacar tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

B: Kepercayaan tentang A

  1. Dia tak sengaja mengabaikan aku. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu
  2. Mungkin dia sedang memiliki masalah
  3. Aku akan membantunya jika aku mampu

C: Reaksi

Perasaan: prihatin

Perilaku : bertanya keadaan kekasihnya, dan coba menghibur.

Benar kan? Bahwasanya ternyata perbedaan cara memandang suatu peristiwa dapat menghasilkan reaksi perasaan dan perilaku yang berbeda. Jadi secara teori ini, orang-orang yang mereaksi suatu peristiwa yang sama dengan reaksi yang sama pula, berarti mereka berpikir dengan cara yang sama.

Seperti yang sudah saya jelasin sebelumnya, pikiran itu membentuk perasaan-perasaan. Nah jika pikiran-pikiran yang membentuk perasaan itu masih ada, seseorang cenderung untuk menanggung perasaan-perasaannya tersebut, menjadikannya bagian dari kehidupan dia. Lia merasa terluka karena dia mengatakan pada dirinya sendiri kalo orang yang dicintainya tidak lagi memperhatikan dia – berarti dirinya sudah tidak berharga lagi di mata kekasihnya. Lia akan akan terus menyakiti dirinya sendiri selama Lia masih memiliki pola pikir ini. Salah satu jalan keluar bagi Lia adalah dengan mengubah pemberitahuan kepada dirinya sendiri, hal ini akan membuat perasaannya lebih lega – bahkan tanpa curhat ke orang lain, mau bukti? Coba aja!

Oke, balik lagi ngejelasin pikiran dan perasaan. Ngelanjutin yang tadi, tanpa curhat ke orang lain mengenai perasaan “tidak enak” kita, sebenernya kita bisa bikin lega perasaan kita dengan mengubah pemberitahuan kepada diri kita sendiri, kalo di kasus Lia, bisa aja pemberitahuan terhadap dirinya sendiri diganti jadi “Dia tak sengaja mengabaikan aku. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu, Mungkin dia sedang memiliki masalah, Aku akan membantunya jika aku mampu”. Sayangnya, jalan keluar yang biasanya ada di kita yang memang manusia biasa ini dalam menanggapi emosi yang sangat kuat (lets say it as Love) cuma dua, yaitu dengan mengekspresikannya keluar atau menekannya ke dalam diri sendiri. Padahal, seperti yang baru-baru ini dijelasin, ada pilihan ketiga yaitu mengubah pemberitahuan terhadap diri kita sendiri.

Soal gampang sebenarnya untuk mengubah pemberitahuan terhadap diri kita sendiri. Kegiatan mengubah pemberitahuan terhadap diri kita sendiri paling gampang dilakukan melalui self-talk. Self-talk itu bicara sendiri. Salah satu bentuk self-talk adalah self-disputing. Pada self-talk ini kita dibebaskan untuk ngeluarin unek-unek pikiran dan untuk saling menentangkan unek-unek ini. Bahasa psikologinya sih eksternalisasi pertentangan kutub introyeksi diri. Ini tuh mirip sama pertentangan malaikat dan iblis di kartun-kartun. Tau ga? Biasanya di film kartun kan kalo tokohnya mau ngelakuin hal yang buruk, pasti itu tuh dipengaruhin iblis, nah waktu itu suka dateng malaikat, pahebat-hebat ngomong antara malaikat sama iblis ini tuh, nah kaya gitu misalnya self-talk. Self-talk lain yang bisa kita pake untuk situasi “Cinta” yang bikin perasaan kalian ga enak adalah self-talk realitas. Pada self-talk relitas ini kita cuma mikirin hal-hal yang terjadi sekarang, jangan fortune-telling (menduga-duga masa depan), jangan mikir masa lalu. Sebenernya masih banyak cara self-talk yang bisa dilakuin. Silahkan cari caranya sendiri, yang jelas tujuannya untuk mengubah pemberitahuan negative dan irasional terhadap diri kita sendiri.

Sedikit resep jika salah satu dari kalian sedang terjebak di suatu situasi “cinta” yang bikin perasaan kalian ga enak –marahan misalnya. Coba kendalikan pikiran kalian, pikirkan hal-hal yang realistis, jangan yang irasional (nanti di jelasin yang irasional itu yang kaya gimana), jangan mikir yang engga2, jangan ngelebay2in, jangan mikir “kalo ga item pasti putih”, jangan mikir yang jelek-jelek, jangan terlalu memperhatikan pengalaman pahit, jangan terlalu meramalkan keadaan, jangan terlalu mengharuskan sesuatu dan yang pasti jangan ambil pusing (hehehe, ga juga sih yang ga perlu ambil pusing mah).

Udah punya sedikit gambaran buat lebih bahagia waktu “punya Cinta”?

About these ads

Tentang fajarjuliansyah, CHt.

mahasiswa bimbingan dan konseling UPI yang punya minat khusus dalam psikoterapi kognitif.
Tulisan ini dipublikasikan di View of Cinta. Tandai permalink.

5 Balasan ke Cinta itu bisa bikin irasional

  1. itsnain_khacong berkata:

    baguss..
    mksii
    udh buka pikiran juga

  2. Rizkia Shafarini berkata:

    Makasih.. atas bantuanya.. pak Fajar.. :P

  3. Jadi lebih kaya jangan bersuuzon tapi harus berkusnuzhon ya pak. Makasih pak infonya hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s